...
Petrus Yumte: 90 Persen Anak Jalanan di Timika OAP

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mimika,  Petrus Yumte mengatakan, anak jalanan (Anjal)  yang ada di Timika 90 adalah Orang Asli Papua (OAP)  "Hampir 90 persen merupakan Orang Asli Papua (OAP)," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (19/9).  Banyaknya anak jalanan kata Petrus karena faktor ekonomi keluarga yang menurun,  sehingga 
 mengakibatkan ketidaknyamanannya ketika berada dalam rumah.  "Dir rumah tidak ada makan dan minum karena tidak ada pendapatan keluarga akhirnya mereka turun ke jalan," jelasnya. 

Dikatakan,  data Dinsos Mimika jumlah anak jalanan yang telah terdata ada sebanyak 1.000 lebih. "Dinsos punya mimpi mereka ini harus dikurangi jumlahnya," ungkap Petrus dengan nada penuh harap. 

Petrus juga mengungkapkan bahwa jumlah anak jalanan yang ada di Mimika semakin bertambah banyak dari berbagai kelompok dan kategori.  "Jika ada kepastian dalam hidup minimal ada protect untuk mereka, sehingga dari faktor kemiskinan itulah yang menjadi pemicu lahirnya anak-anak jalanan" tambahnya.  Dinsos juga tengah berupaya agar adanya panti rehabilitasi di Mimika, bukan panti asuhan agar anak tersebut dididik sebelum dikembalikan ke keluarga.  Namun kata Petrus hal tersebut harus dilakukan dengan hati yang besar dan sabar karena yang akan ditangani  merupakan manusia dengan berbagai macam sifat dan tingkah laku yang berbeda-beda. "Kalau untuk saya mereka ini tidak cukup hanya direhabilitasi saja, mereka harus diberi pekerjaan atau kesibukan untuk merenovasi sikap dan lainnya," imbuhnya "Jika mereka masih sekolah harus kembali di sekolahkan, begitupun sebaliknya.  Jika sudah usia 17 tahun naik keatas mereka harus diberi BLK atau pelatihan," tambah Petrus. 

Petrus juga mengatakan bahwa anak-anak jalanan yang telah didata oleh Dinsos dan dalam penanganan rata-rata mereka dalam tahap sekolah saja karena kebanyakan usia dibawah 17 tahun. "Ada yang mereka sekolah di Panti asuhan ada juga yang dititipkan di sekolah-sekolah terdekat," tegasnya. Namun untuk biaya kebutuhan dan segala keperluan anak-anak tersebut dibiayai oleh Pemkab. "Itu sudah dianggarkan, satu tahun itu ada sekitar Rp 600 sampai 700 juta," kata PetrusDinsos Mimika juga telah turun langsung untuk memantau anak-anak jalanan yang masih belum terdata, namun sering terkendala, kebanyakan mereka tidak mau untuk ikut ke panti asuhan. "Mungkin karena mereka ini sudah terkontaminasi dengan lingkungan sekitar, dunia malam dan lain-lain jadi kalau mau dibawah ke panti itu mereka tidak mau," pungkasnya.