Pemda Mimika Terbitkan Buku Bahasa Amungme dan Kamoro

...

Guna mensosialisasikan bahasa daerah serta melestarikan budaya, Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Mimika meluncurkan buku tata bahasa Amungme dan Kamoro. Lauching buku tersebut dilakukan saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Mimika ke 23, Selasa (8/10)  di Lapangan Sentra Pemerintahan Kabupaten Mimika, SP 3.Amungme dan Kamoro ada dua suka besar utama yang mendiami Kabupaten Mimika. Suku Amungme secara geografis mendiami wilayah pegunungan, sementara suku Kamoro di wilayah pesisir pantai Mimika.

Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob yang secara langsung melaunching buku tersebut usai pemotongan tumpeng mengatakan, kedepan dua bahasa tersebut akan diterapkan di sekolah-sekolah dan akan dimasukan dalam kurikulum agar bahasa daerah tidak hilang.Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Dominggus Kapiyau menjelaskan, nantinya 8.082 buku tata bahasa Amungme dan Kamoro tersebut akan disalurkan kepada sekolah-sekolah yang ada di Mimika untuk kemudian diajarkan kepada para siswa."Sesuai dengan perintah Wabup Mimika akan diserahkan kepada sekolah tingkat SD, SMP sampai SMA untuk diajarkan bahasa budaya atau daerah," ungkap Dominggus. Menurutnya, hal itu sangat wajar dilakukan karena bahasa daerah atau bahasa ibu sudah hampir tidak dilestarikan lagi bahkan hampir hilang. 
"Sehingga inspirasi ini perlu dilakukan, ketika semua bahasa Ibu sudah tidak ada lagi mereka bisa membaca buku ini," imbuhnya. 

Sementara untuk pembuatan buku tata bahasa tersebut dijelaskan Dominggus bahwa data-datanya sudah disiapkan beberapa tahun lalu, dan untuk pembuatan bukunya sejak awal tahun 2019."Pertamanya itu kami koordinasikan dengan Badan Bahasa Nasioanal di Jakarta, lalu pada Badan Balai Bahasa Papua di Jayapura," katanya.Dijelaskan juga bahwa dalam pembuatan buku tersebut mendatangkan langsung Badan Bahasa Nasional di Mimika untuk memberikan penjelasan serta informasi tentang cara membuat buku yang baik dan benar. Tidak hanya itu pihaknya juga mengundang tiga orang narasumber dari Amungme dan Kamoro untuk memeriksa kemungkinan adanya kesalahan dalam pengetikan.Dalam buku tata bahasa Amungme dan Kamoro  menjelaskan tentang penggunaan bahasa keseharian dari masyarakat dua suku tersebut.