Inovasi Daerah

KEMBANGKARA (Kemitraan Membangun Karakter Anak)

Tahap Penerapan Non-digital Tahun 2026

Tujuan

  • Meningkatkan kualitas manajemen sekolah

    Kepala sekolah lebih mudah mengelola program pembinaan karakter karena mendapat: Dukungan sumber daya dari mitra, Narasumber dan fasilitas tambahan, Program pembinaan yang lebih terstruktur

  • Meningkatkan kompetensi guru dalam pembinaan karakter

Meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan social

Manfaat

  • Mengatasi masalah 25–40% murid yang terlambat dan tidak disiplin.

  • Mengatasi kasus bullying dan cara berkomunikasi yang kurang sopan.

  • Mengatasi 35% murid yang pasif dalam kerja sama dan kepedulian sosial.
  • Memastikan kebiasaan baik menjadi konsisten.

  • Solusi bagi murid yang kesulitan mengelola emosi.

Hasil yang dicapai

  • Memperkaya Pengalaman Belajar Murid; Pihak mitra (komunitas, lembaga pemerintah, dunia usaha, sanggar seni, dll.) dapat menyediakan pengalaman belajar nyata yang tidak tersedia di sekolah, seperti: Kunjungan ke perpustakaan umum, puskesmas, Program lingkungan di desa/kelurahan, Ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual.

  • Menguatkan Pendidikan Karakter Secara Lebih Komprehensif ; Karakter bukan hanya dibangun melalui teori, tetapi juga praktik. Melalui kemitraan: Murid belajar gotong royong, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian langsung dari kegiatan lapangan. Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila diterapkan dalam aktivitas nyata bersama masyarakat.

Rancang bangun

NAMA INOVASI                     : KEMBANG KARA

TAHAPAN                                : PENERAPAN

INISIATOR                               : SIMON RABA, S.Pd

JENIS INOVASI                       : NON DIGITAL

BENTUK INOVASI                 : MEMBANGUN KARAKTER

SEKOLAH                                 : SD INPRES TIMIKA IV

  1. DASAR HUKUM 

    1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas.

    2. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK

    3. Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti

    4. Permendikbud No. 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter: 

    5. Peraturan Pemerintah (PP) No. 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas PP No. 19 Tahun 2005: 

  1. PERMASALAHAN 

    1. Permasalahan Makro (Nasional /Sistemik)

Permasalahan ini berasal dari lingkungan masyarakat dan kebijakan nasional yang berdampak pada perilaku anak di sekolah, antara lain :

  • Degradasi moral dan nilai sosial di masyarakat (meningkatnya kasus kekerasan, intoleransi, perundungan, menurunnya sopan santun dan rasa hormat antargenerasi)  .Ini membuat sekolah perlu menjadi benteng pembentukan nilai.
  • Pengaruh negatif media digital dan gawai (anak terpapar konten kekerasan, ujaran kebencian, dan gaya hidup konsumtif, anak kurang mampu menyaring informasi sehingga mudah meniru hal negative).
  • Perubahan sosial budaya yang sangat cepat (pergeseran nilai gotong royong menjadi individualistis, kurangnya interaksi sosial karena waktu anak lebih banyak di dunia digital)
  • Tantangan era global (4.0 & 5.0) terhadap kompetensi karakter ( dunia kerja masa depan menuntut kreativitas, etika, kolaborasi, dan daya juang, hal ini perlu dipupuk sejak SD agar menjadi kebiasaan).
  • Krisis literasi dan lemahnya budaya disiplin ( banyak anak kurang fokus belajar karena minimnya pembiasaan membaca, bertanggung jawab, dan mengatur diri)
  • Ketidaksinkronan pembinaan karakter antara rumah–sekolah–masyarakat (Nilai di sekolah sering tidak sejalan dengan pola asuh keluarga, Minim komunikasi menyebabkan pembiasaan karakter tidak berkesinambungan).
  1. Permasalahan Mikro

Permasalahan ini muncul dalam keseharian di sekolah dan langsung memengaruhi pembelajaran antara lain: 

  • Perilaku murid yang membutuhkan pembinaan (mudah marah, kurang disiplin, tidak menghargai teman, kurangnya tanggung jawab pada tugas, bullying atau mengejek, rendahnya empati).
  • Lingkungan sekolah kurang kondusif (Budaya positif belum terbentuk secara menyeluruh,  Aturan sekolah tidak diterapkan konsisten oleh guru maupun murid).
  • Keteladanan dan konsistensi guru bervariasi (Ada guru yang sudah menjadi teladan baik, tetapi tidak semua konsisten dalam penerapan pembiasaan karakter).
  • Kurangnya kolaborasi guru–orang tua (Orang tua kurang terlibat dalam pembinaan karakter, Beberapa orang tua kurang memberi contoh positif di rumah).
  • Tantangan internal murid (Latar belakang keluarga yang beragam (ekonomi, pola asuh, budaya, dan Masalah emosi atau sosial yang tidak terlihat oleh guru).
  1. ISU STRATEGIS

    1. Isu Strategis Global

      Pada level global, pembentukan karakter anak banyak dipengaruhi oleh perubahan dunia yang cepat:

      1. Dampak Digitalisasi & Media Sosial
  • Anak terpapar nilai global yang belum tentu sesuai budaya lokal 
  • Risiko: cyberbullying, kecanduan gadget, penurunan empati 
  • Kemitraan penting: sekolah + orang tua + platform digital 
    1. Krisis Moral & Nilai Universal
  • Menurunnya nilai kejujuran, tanggung jawab, toleransi 
  • Perlu kolaborasi lintas negara melalui pendidikan karakter berbasis nilai universal (respect, integrity) 
    1. Ketimpangan Akses Pendidikan
  • Tidak semua anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik 
  • Perlu kemitraan antara pemerintah, NGO, dan lembaga internasional 
    1. Tantangan Multikulturalisme
  • Anak hidup dalam masyarakat global yang beragam 
  • Perlu pendidikan karakter berbasis toleransi dan inklusivitas 
  • Kemitraan: sekolah + komunitas + lembaga keagamaan 
  1. Isu Strategis Nasional (Indonesia)
    1. Penguatan Profil Pelajar Pancasila
  • Fokus pada nilai: gotong royong, mandiri, bernalar kritis, berakhlak mulia 
  • Tantangan: implementasi belum merata 
  • Kemitraan: sekolah + keluarga + dunia usaha + pemerintah 
    1. Kasus Bullying dan Kekerasan di Sekolah
  • Masih sering terjadi di berbagai daerah 
  • Butuh kolaborasi: 
    • Sekolah (pencegahan) 
    • Orang tua (pengawasan) 
    • Aparat (penegakan aturan)
  1. Peran Orang Tua yang Berkurang
  • Banyak orang tua sibuk bekerja 
  • Pendidikan karakter lebih banyak dibebankan ke sekolah 
  • Perlu kemitraan aktif: parenting program 
    1. Pengaruh Budaya Luar
  • Nilai lokal mulai tergerus 
  • Perlu sinergi: 
    • Sekolah 
    • Tokoh adat/budaya 
    • Komunitas 
      1. Kesehatan Mental Anak
  • Meningkatnya stres, kecemasan pada anak 
  • Perlu kemitraan: 
    • Sekolah 
    • Puskesmas/psikolog 
    • Orang tua 
  1. Isu Strategis Lokal (Sekolah & Masyarakat)
    1. Kurangnya Sinergi Antar Pihak
  • Sekolah berjalan sendiri tanpa dukungan maksimal dari orang tua/masyarakat 
  • Solusi: program kemitraan aktif dan rutin 
    1. Disiplin dan Tanggung Jawab Anak
  • Masih rendah (terlambat, tidak taat aturan) 
  • Kemitraan: 
    • Sekolah + Polisi (edukasi disiplin) 
    • Orang tua sebagai teladan
      1. Lingkungan Sosial yang Kurang Mendukung
  • Pergaulan bebas, bahasa kasar, dll 
  • Perlu keterlibatan: 
    • Tokoh masyarakat 
    • Organisasi pemuda 
      1. Kurangnya Edukasi Kesehatan dan Empati
  • Anak kurang peduli kebersihan dan sesama 
  • Kemitraan: 
    • Sekolah + Puskesmas 
      1. Minimnya Edukasi Kebencanaan
  • Anak belum siap menghadapi bencana 
  • Kemitraan: 
    • Sekolah + BASARNAS/BPBD
  1. METODE KEBAHARUAN 

  2. Kondisi karakter  murid pra inovasi kemitraan

Pada fase Penerapan ini didasari oleh fakta disekolah  bahwa :

  • Perilaku Disiplin Murid Masih Rendah

    Berdasarkan hasil observasi guru dan catatan tata tertib (selama 1 semester) : 25–40% murid terlambat masuk kelas dan tidak masuk sekolah, 20–30% murid kurang mematuhi aturan sekolah (piket, penggunaan seragam, kebersihan kelas), Murid belum menunjukkan kebiasaan bertanggung jawab, terutama saat menyelesaikan tugas atau menjaga fasilitas sekolah. Artinya  Pembinaan karakter disiplin dan tanggung jawab yang selama ini dilakukan belum berjalan optimal.

  • Tingkat Kepedulian Sosial dan Gotong Royong Masih Lemah ( Dari hasil pengamatan dalam kegiatan kelas dan proyek kelompok: (Sebagian murid (±35%) kurang aktif bekerja sama, 25% murid cenderung pasif atau enggan membantu teman, Kebiasaan menjaga lingkungan (membuang sampah, piket) belum konsisten.

    Dalam hal ini terlihat  Karakter gotong royong dan empati belum terbentuk kuat.

  • Munculnya Kasus Perilaku Kurang Sopan atau Bullying Ringan (Catatan bimbingan dan konseling menunjukkan: (Ada beberapa kasus saling mengejek antar murid.,Perilaku kurang sopan dalam berkomunikasi masih sering terjadi, Beberapa murid mengalami kesulitan mengelola emosi). Menandakan bahwa  Perlu pembinaan karakter melalui pendekatan lebih luas, tidak hanya dari guru.

  1. Kondisi karakter  murid sesudah inovasi kemitraan

    1. Peningkatan Kedisiplinan dan Tanggung Jawab Mandiri

      Inovasi kemitraan melalui program pembiasaan bersama telah dapat menciptakan ekosistem disiplin yang konsisten antara rumah dan sekolah.

  • Tingkat keterlambatan menurun drastis hingga di bawah 10-15%. Murid memiliki kesadaran internal untuk hadir tepat waktu tanpa perlu pengawasan ketat.

  • Murid secara sadar menggunakan seragam lengkap dan menjaga kebersihan kelas sebagai bentuk rasa memiliki (sense of belonging).

  • Tugas-tugas sekolah diselesaikan tepat waktu dengan kualitas yang lebih baik karena adanya dukungan dan apresiasi baik dari guru maupun mitra (orang tua).

    1. Penguatan Budaya Gotong Royong dan Empati

      Melalui model pembelajaran kolaboratif yang didukung kemitraan, interaksi antar murid menjadi lebih positif.

  • Murid yang sebelumnya pasif kini terlibat aktif (85-90% partisipasi) dalam kerja kelompok. Mereka mulai memahami peran masing-masing dalam tim.

  • Kebiasaan menjaga kebersihan menjadi budaya (insting), di mana murid saling mengingatkan tanpa harus diminta untuk membuang sampah atau melakukan piket.

  • Munculnya inisiatif murid untuk membantu teman yang mengalami kesulitan belajar (tutor sebaya).

    1. Iklim Sekolah yang Harmonis dan Aman (Bebas Bullying)

      Pendekatan kemitraan yang lebih luas (melibatkan sosialisasi dari pihak luar atau bimbingan terpadu) menciptakan ruang aman bagi emosi murid.

  • Terjadi penurunan signifikan pada kasus ejekan atau bullying ringan. Murid mulai terbiasa menggunakan "Tiga Kata Ajaib": Maaf, Tolong, dan Terima Kasih.

  • Murid lebih mampu mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara damai melalui diskusi, bukan konfrontasi.

  • Hubungan Guru-Murid-Wali : Komunikasi yang terbuka membuat murid merasa didukung dari berbagai sisi, sehingga perilaku menyimpang berkurang karena mereka merasa diperhatikan.

  1. KEUNGGULAN KEBAHARUAN/KARAKTERISTIK INOVASI KEMBANG KARA

    Membangun karakter anak merupakan aspek penting dalam pendidikan. Kemitraan antara sekolah dan pihak luar dapat membantu meningkatkan kehadiran, mengurangi bullying, dan mengembangkan karakter positif anak.

    Berikut ini merupakan keunggulan dan keunikan dari program Inovasi KEMBANGKARA :

    1. Ekosistem Disiplin yang Terintegrasi (Sinkronisasi Rumah-Sekolah)
    2. Keunggulan : Mengatasi masalah 25–40% murid yang terlambat dan tidak disiplin.

    3. Keunikan: Terciptanya satu standar aturan yang sama antara di sekolah dan di rumah. Melalui kemitraan dengan orang tua, murid tidak lagi merasakan "dua dunia" yang berbeda. Apa yang ditekankan guru di sekolah (misal: tanggung jawab piket), diperkuat oleh orang tua di rumah.

    4. Dampak: Disiplin tumbuh menjadi kesadaran internal, bukan sekadar takut pada sanksi guru.

  2. Perluasan Sosok Keteladanan (Role Model)
  • Keunggulan : Mengatasi kasus bullying dan cara berkomunikasi yang kurang sopan.

  • Keunikan: Murid cenderung bosan jika hanya mendengar nasihat dari guru kelasnya setiap hari. Menghadirkan mitra (seperti tokoh masyarakat, profesional, atau instansi terkait seperti Basarnas) memberikan efek kebaruan (novelty effect).

  • Dampak: Pesan tentang etika, empati, dan pengelolaan emosi menjadi lebih berkesan bagi murid karena disampaikan oleh sosok-sosok baru yang mereka kagumi atau hormati.

  1. Kontekstualisasi Gotong Royong melalui Proyek Riil
  • Keunggulan : Mengatasi 35% murid yang pasif dalam kerja sama dan kepedulian sosial.
  • Keunikan: Kemitraan memungkinkan murid melakukan kegiatan gotong royong di luar lingkungan kelas yang teoretis. Misalnya, kemitraan dengan lingkungan sekitar untuk bakti sosial atau kerja bakti desa.

  • Dampak: Murid melihat langsung manfaat dari membantu orang lain dan bekerja sama, sehingga karakter empati terbangun secara konkret melalui pengalaman langsung (experiential learning).

  1. Sistem Pengawasan Berlapis (Multi-Stakeholder Monitoring)

  • Keunggulan : Memastikan kebiasaan baik menjadi konsisten.

  • Keunikan: Adanya instrumen pemantauan bersama (seperti buku saku digital atau grup koordinasi kemitraan). Ketika murid menunjukkan perilaku positif di luar sekolah, mitra dapat memberikan apresiasi yang diketahui oleh guru.

  • Dampak: Murid merasa "dilihat" dan dihargai di mana pun mereka berada, yang secara efektif menekan keinginan untuk berperilaku kurang sopan atau malas-malasan.

  1. Pendekatan "Human-Centered" dalam Penanganan Emosi

  • Keunggulan: Solusi bagi murid yang kesulitan mengelola emosi.

  • Keunikan: Kemitraan memungkinkan sekolah mengakses sumber daya yang lebih spesifik, misalnya melibatkan psikolog atau praktisi mindfulness dari komunitas kemitraan.

  • Dampak: Penanganan karakter dilakukan secara preventif dan persuasif, bukan sekadar pemberian hukuman (punitive), sehingga akar masalah emosi murid dapat terselesaikan.

Keunggulan lain dari Program Inovasi ini adalah :

  1. Bagi Sekolah

Memperluas Program Sekolah dan Reputasi Baik, Kemitraan dapat membuka peluang berinteraksi dengan pihak luar sekolah sehingga dengan program – program karakter yang dibangun melalui kemitraan dapat membuat sekolah lebih aktif dan dipercaya oleh masyarakat.

  1. Bagi Guru

Membantu Guru Memperluas Sumber Belajar. Kemitraan menyediakan materi, narasumber, dan fasilitas yang melengkapi kemampuan guru dalam Permainan edukatif, Modul pembinaan diri dan yang lainnya.

  1. Bagi Murid

  • Memperkaya Pengalaman Belajar Murid; Pihak mitra (komunitas, lembaga pemerintah, dunia usaha, sanggar seni, dll.) dapat menyediakan pengalaman belajar nyata yang tidak tersedia di sekolah, seperti: Kunjungan ke perpustakaan umum, puskesmas, Program lingkungan di desa/kelurahan, Ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual.

  • Menguatkan Pendidikan Karakter Secara Lebih Komprehensif ; Karakter bukan hanya dibangun melalui teori, tetapi juga praktik. Melalui kemitraan: Murid belajar gotong royong, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian langsung dari kegiatan lapangan. Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila diterapkan dalam aktivitas nyata bersama masyarakat.

  • Menghadirkan Teladan Nyata Bermitra dengan tokoh masyarakat, profesional, atau lembaga tertentu memberi murid role model yang dapat menginspirasi: Polisi/Babinsa memberi contoh disiplin dan tanggung jawab, Tenaga kesehatan memberi contoh hidup sehat

  • Meningkatkan Motivasi dan Kepercayaan Diri Murid seperti Jika murid berinteraksi dengan berbagai pihak luar, mereka: Lebih percaya diri berkomunikasi

  • Termotivasi untuk menunjukkan sikap baik, Merasa dihargai karena mendapat pengalaman baru.

  1. Bagi Orang Tua dan Lingkungan

Menguatkan Dukungan Kemitraan dengan komite sekolah, komunitas orang tua, atau organisasi lokal membantu: Menyatukan nilai karakter antara rumah dan sekolah, Mengurangi perilaku negatif karena kontrol sosial lebih baik,  Menumbuhkan budaya positif di lingkungan murid

  1. CARA KERJA RENCANA ALUR INOVASI KEMITRAAN
  1. Identifikasi Kebutuhan

    Sebelum mencari mitra, sekolah harus tahu "celah" karakter apa yang perlu diisi.

Aksi

Fokus

Output

Melakukan survei perilaku murid, wawancara guru, dan masukan orang tuaMenentukan nilai utama (misal: kejujuran, kedisiplinan, atau literasi digital/etika medsos).Profil kebutuhan karakter murid
  1. Pemetaan Mitra (Mapping)

    Mencari mitra yang memiliki nilai (value) yang sejalan dengan kebutuhan sekolah.

Kategori Mitra

Output

Guru  dan Orang TuaSebagai role model utama

Daftar calon mitra potensial

PolisiKedisiplinan dan tanggung jawab
Puskesmaskebersihan/empati/kesehatan
BASARNASSimulasi Menanggulani bencana
PERSAGI Pentingnya Gizi anak 
  1. Kesepakatan (Formalisasi)

    Membangun komitmen bersama agar kerja sama bersifat berkelanjutan, bukan sekadar seremoni.

Aksi

Dokumen

Ket

Pertemuan awal untuk menyamakan visiPenandatanganan MoU (Nota Kesepahaman) atau piagam kerjasama yang jelas membagi peran masing-masing pihak. 
  1. Perencanaan Program Berbasis Inovasi

    Merancang kegiatan yang menarik bagi anak SD (fun & meaningful).

Inovasi

Kemitraan

Metode

Output

“Bina Karakter Tunas  Hijau” Sesama GuruExperiential Learning (Belajar dan Melakukan)

Jadwal, Materi, Refleksi, Laporan kegiatan

https://youtu.be/wQzZupu2Ce4 

Terlaksana
Disiplin Sejak Dini, Anak Berani Bertanggung Jawab Dan Baik Hati kepada SesamaKepolisianPembelajaran Berbasis Pengalaman (Experiential Learning)

Dokumentasi kegiatan

https://www.facebook.com/share/p/1BAT6F6rNx/

Terlaksana
Anak Sehat, Anak PeduliPuskesmasRole Model

Dokumentasi kegiatan

https://www.facebook.com/share/p/1QZXhkf1mG/

Terlaksana
Siaga Bencana, Anak Tangguh dan BeraniBasarnasPembelajaran Berbasis Pengalaman (Experiential Learning)

Dokumentasi kegiatan

https://www.facebook.com/share/p/1D4wgpAxTX/

Terlaksana
Anak Sehat dengan Gizi Tepat , Sekolah HebatPersagiRole Model

Dokumentasi kegiatn 

https://www.facebook.com/share/p/1Dzx1ER4Wc/

Terlaksana
Pemberdayaan anak dalam Penanggulangan Diare Mahasiswa PoltakesMedia edukasi interaktif (ular tangga)

https://www.facebook.com/share/p/1BCHVQ4CdF/

Terlaksana 
  1. Pelaksanaan

Tahap aksi di mana mitra berinteraksi langsung dengan murid.

Metode

Catatan

Hasil

Workshop interaktif, dongeng karakter, kunjungan lapangan, atau pendampingan rutin.

Guru tetap :

  • Mendampingi sebagai fasilitator untuk memastikan materi sesuai dengan usia perkembangan anak
  • Melaksanakan kegiatan sesuai rencana.
  • Melibatkan murid secara aktif dan bermakna.
  • Mengintegrasikan peran guru, mitra, dan orang tua.
  • Mendokumentasikan proses dan hasil kegiatan.
Terlaksananya kegiatan pembinaan karakter murid.

Bentuk Workshop (Interaktif & Partisipatif)

Workshop dirancang tidak satu arah, tetapi melibatkan murid secara aktif melalui:

  1. Ice Breaking Bermakna : Permainan nilai (kerja tim, komunikasi, empati), Simulasi sederhana berbasis masalah sehari-hari murid

    1. Diskusi Kelompok Kecil:  Murid dibagi kelompok heterogen, Membahas studi kasus karakter (misalnya: disiplin di sekolah, sikap terhadap teman)
      1. Simulasi & Role Play: Bermain peran situasi nyata (antri, kerja kelompok, konflik ringan), Mitra berperan sebagai fasilitator/pendamping
      2. Proyek Mini (Mini Project):Murid merancang aksi nyata (contoh: kampanye jujur, piket tanggung jawab), Dipresentasikan di akhir workshop
      3. Refleksi

    Murid diminta menjelaskan tentang bagaimana perasaannya setelah melakukan kegiatan – kegiatan tersebut.

  2. Integrasi dengan Program Sekolah
  • Diperkuat melalui pembiasaan harian sekolah

  • Ditindaklanjuti oleh wali kelas dan orang tua

  • Menjadi bagian dari budaya sekolah

  1. Evaluasi

    Mengukur sejauh mana kemitraan berdampak pada perubahan perilaku murid melalui Instrumen  Jurnal refleksi murid, testimoni mitra, dan observasi perubahan perilaku oleh guru.

  2. Refleksi 

    Dilaksanakan kepada murid untuk mengukur dan membandingkan tingkat keberhasilan sebelum dan sesudah diakannnya program kemitraan membangun karakter ini.

  3. Pengembangan Lanjutan (Sustainability)

    Publikasi keberhasilan untuk menarik mitra baru, pemberian apresiasi kepada mitra (Partnership Award), dan pembaruan materi agar tetap relevan dengan tren tantangan karakter zaman sekarang.

PROGRAM INOVASI SEKOLAH “KEMBANG KARA”

(Kemitraan Membangun Karakter Anak )

“KOLABORASI SEKOLAH DAN MITRA, MENCETAK GENERASI SD INPRES TIMIKA IV YANG DISIPLIN, SEHAT, PEDULI, DAN SIAP MENGHADAPI MASA DEPAN.”

← Kembali ke daftar inovasi

Nilai Website Kami

Bantu Kami Meningkatkan Website Pemkab Mimika

Sampaikan pengalaman Anda menggunakan website resmi Pemerintah Kabupaten Mimika. Masukan Anda membantu kami meningkatkan kualitas informasi dan layanan digital.

Mulai Survei