Inovasi Daerah
Honai Literasi
Tujuan
Program Honai Literasi (HOLI) di SD Negeri 6 Mimika bertujuan untuk:
- Meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik melalui lingkungan belajar yang kontekstual, aktif, dan berkelanjutan.
- Menjadikan Honai Literasi sebagai ruang belajar dan berkarya yang mengintegrasikan membaca, numerasi, budaya lokal, karakter, kesehatan/gizi, dan kehidupan sehari-hari.
- Mengintegrasikan budaya Amungme dan Kamoro serta potensi lingkungan lokal Mimika sebagai sumber belajar yang relevan dengan pengalaman peserta didik.
- Meningkatkan kolaborasi guru, sekolah, orang tua, masyarakat, dan stakeholder dalam mendukung pengembangan literasi dan numerasi.
- Mengembangkan dokumentasi dan dukungan teknologi secara bertahap untuk mempermudah pemantauan, pengelolaan informasi, evaluasi, dan pengembangan HOLI secara berkelanjutan.
Manfaat
Manfaat utama dari program Honai Literasi (HOLI) ini meliputi:
- Siswa SD Negeri 6 Mimika sebagai penerima manfaat langsung dari peningkatan Honai Literasi (HOLI)
- Guru dan tenaga pendidik yang berperan sebagai fasilitator dan penggerak program.
- Orang tua dan masyarakat yang dilibatkan dalam kegiatan literasi berbasis komunitas.
- Stakeholder pendidikan termasuk Pemerintah Daerah Mimika dan mitra kerja sama seperti PT Freeport Indonesia.
- Lingkungan sekolah sebagai pusat literasi dan pengembangan teknologi sederhana.
Manfaat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan strategi pelaksanaan program Honai Literasi (HOLI) di SD Negeri 6 Mimika meliputi:
- Penguatan kapasitas guru melalui pelatihan literasi dan teknologi sederhana.
- Integrasi budaya lokal Amungme dan Kamoro dalam kegiatan literasi sekolah.
- Pemanfaatan teknologi sederhana seperti perangkat digital dasar untuk mendukung pembelajaran.
- Kolaborasi dengan masyarakat melalui kegiatan literasi berbasis komunitas.
- Kemitraan dengan stakeholder seperti Pemerintah Daerah dan PT Freeport Indonesia untuk dukungan fasilitas dan pendanaan.
Metode pelaksanaan program dilakukan melalui:
- Workshop literasi untuk siswa dan guru.
- Kegiatan membaca bersama yang melibatkan orang tua dan masyarakat.
- Penggunaan media digital sederhana seperti aplikasi pembelajaran dasar.
- Program kerja tahunan yang terstruktur dengan indikator capaian.
- Monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas program.
Hasil yang dicapai
Program Honai Literasi (HOLI) di SD Negeri 6 Mimika menghasilkan ekosistem pembelajaran literasi dan numerasi yang memanfaatkan Honai sebagai ruang belajar, membaca, berdiskusi, berkarya, dan mengenal budaya lokal. Hasil penerapan HOLI meliputi:
Dengan adanya dokumen rancang bangun ini, diharapkan:
• Peserta didik memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang lebih baik melalui kegiatan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
• Guru mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang inovatif dengan memanfaatkan Honai, budaya lokal, lingkungan sekitar, serta teknologi sederhana sebagai sumber dan media pembelajaran.
• Budaya Amungme dan Kamoro semakin terintegrasi dalam kegiatan pendidikan, sehingga peserta didik dapat mengenal, memahami, dan menghargai identitas budaya lokal melalui kegiatan literasi dan numerasi.
• Orang tua, masyarakat, pemerintah daerah, dan stakeholder terkait semakin terlibat dalam mendukung pengembangan ekosistem literasi dan numerasi di sekolah melalui kolaborasi dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.
• HOLI dapat dilaksanakan secara terukur, berkelanjutan, dan terus dikembangkan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi untuk dokumentasi, monitoring, evaluasi, dan penguatan informasi pendidikan sesuai kebutuhan dan kesiapan sekolah.
Dengan demikian, dokumen rancang bangun ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan, pengembangan, monitoring, evaluasi, dan keberlanjutan program Honai Literasi (HOLI) di SD Negeri 6 Mimika
Rancang bangun
A. DASAR HUKUM
Pelaksanaan HOLI (Honai Literasi) merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penguatan literasi, numerasi, karakter, pemanfaatan teknologi, serta pembelajaran yang sesuai dengan konteks sosial dan budaya daerah.
Dasar hukum dan kebijakan yang menjadi landasan pengembangan HOLI antara lain:
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa serta memberikan ruang bagi pengembangan potensi peserta didik sesuai keragaman kondisi daerah.
Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Menengah, yang menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kerangka dasar dan struktur kurikulum nasional serta memberikan ruang bagi satuan pendidikan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik dan konteks sosial budaya setempat.
Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 sebagai perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, yang memperkuat implementasi kurikulum dan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.
Kebijakan dan program pemerintah dalam penguatan literasi dan numerasi peserta didik sebagai bagian penting dari peningkatan mutu pembelajaran. Pemerintah juga menekankan bahwa literasi dan numerasi perlu dikembangkan lintas mata pelajaran dan dapat diintegrasikan melalui kegiatan berbasis proyek dan konteks kehidupan nyata.
Kebijakan dan regulasi Pemerintah Kabupaten Mimika yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, penguatan literasi, pengembangan sumber daya manusia, pelestarian budaya lokal, dan penyelenggaraan pelayanan pendidikan.
Keputusan/Surat Keputusan Kepala Daerah atau Kepala Perangkat Daerah terkait penetapan dan pelaksanaan HOLI, yang menjadi bukti formal penerapan inovasi. Nomor dan tanggal SK disesuaikan dengan dokumen resmi yang diterbitkan.
B. PERMASALAHAN
1. Permasalahan Makro
Pendidikan dasar menghadapi tantangan dalam memastikan peserta didik memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang memadai sebagai fondasi untuk mengikuti pembelajaran dan menghadapi perkembangan kehidupan sosial, ekonomi, dan teknologi.
Kebutuhan tersebut semakin penting karena kemampuan literasi dan numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Secara nasional, hasil kajian PSKP Kemendikdasmen tahun 2026 menunjukkan bahwa capaian kompetensi minimum literasi SD/MI turun dari 59,04% pada 2024 menjadi 55,7% pada 2025, sedangkan numerasi turun dari 52,48% menjadi 48,25%. Kajian yang sama mencatat bahwa sekitar 35,6% siswa kelas 4 SD masih belum mencapai kemampuan dasar numerasi dan 18,8% belum mencapai kemampuan dasar literasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi dan numerasi tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas saja, tetapi membutuhkan lingkungan belajar yang aktif, kontekstual, mudah diakses peserta didik, serta mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, perkembangan teknologi menuntut peserta didik memiliki kemampuan literasi digital secara bertahap. Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan perlu diarahkan bukan sekadar untuk menggunakan perangkat, tetapi untuk mendukung proses belajar, dokumentasi pengetahuan, kolaborasi, dan pengambilan keputusan berbasis informasi. Hal tersebut sejalan dengan arah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 4) yang menekankan pendidikan yang inklusif, bermutu, relevan, serta penguasaan kemampuan membaca dan matematika dasar.
2. Permasalahan Mikro
Pada tingkat satuan pendidikan, SD Negeri 6 Mimika menghadapi kebutuhan untuk memperkuat budaya literasi dan numerasi peserta didik melalui lingkungan belajar yang lebih menarik, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan mereka.
Dokumen awal HOLI mengidentifikasi beberapa kebutuhan utama, yaitu penguatan literasi dasar, peningkatan keterampilan teknologi sederhana, serta integrasi budaya masyarakat Amungme dan Kamoro dalam pembelajaran. Pembelajaran literasi juga perlu dikembangkan agar tidak hanya berorientasi pada aktivitas membaca buku, tetapi menghasilkan aktivitas lanjutan berupa memahami, berdiskusi, menghitung, menulis, menghasilkan karya, dan menghubungkan pengetahuan dengan lingkungan sekitar.
Selain itu, sekolah membutuhkan ruang atau lingkungan belajar yang dapat menjadi pusat kegiatan literasi dan numerasi yang dapat digunakan secara fleksibel oleh siswa dan guru. Dalam konteks tersebut, budaya lokal Mimika memiliki potensi besar untuk dijadikan sumber belajar. Cerita lokal, kehidupan masyarakat, makanan tradisional, lingkungan alam, kegiatan masyarakat, serta pengetahuan lokal dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman peserta didik.
C. ISU STRATEGIS
1. Isu Strategis Global
Isu global yang menjadi konteks pengembangan HOLI adalah kebutuhan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, inklusif, relevan, dan mampu membekali peserta didik dengan kemampuan literasi, numerasi, kemampuan belajar sepanjang hayat, serta keterampilan yang sesuai dengan perkembangan teknologi.
SDG 4 menempatkan kualitas pendidikan, kemampuan membaca dan matematika dasar, pemerataan akses, serta lingkungan belajar yang efektif sebagai bagian penting dari agenda pembangunan pendidikan global. HOLI merespons isu tersebut melalui penciptaan lingkungan belajar yang memadukan literasi, numerasi, karakter, budaya lokal, serta pemanfaatan teknologi secara bertahap.
2. Isu Strategis Nasional
Pada tingkat nasional, penguatan literasi dan numerasi menjadi bagian penting dari peningkatan kualitas pembelajaran. Pemerintah mendorong pengembangan literasi dan numerasi lintas mata pelajaran serta penggunaan pembelajaran berbasis proyek dan konteks kehidupan nyata.
Implementasi Kurikulum Merdeka juga memberikan ruang kepada satuan pendidikan untuk menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik dan karakteristik lingkungan sosial budaya setempat. HOLI menjadi salah satu bentuk penerapan prinsip tersebut melalui pembelajaran literasi dan numerasi yang menggunakan lingkungan, budaya, makanan, kehidupan masyarakat, serta teknologi sederhana sebagai sumber belajar.
3. Isu Strategis Lokal
Pada konteks Kabupaten Mimika, kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan perlu berjalan bersama dengan pelestarian identitas dan kekayaan budaya masyarakat lokal.
Keberagaman budaya Amungme dan Kamoro memberikan sumber belajar yang dapat digunakan untuk memperkaya pengalaman peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kemampuan peserta didik untuk mengenal, memahami, dan menghargai budaya serta lingkungan tempat mereka tinggal.
HOLI dikembangkan sebagai respons lokal dengan menjadikan Honai sebagai simbol sekaligus ruang belajar yang menghubungkan literasi, numerasi, budaya, karakter, lingkungan, dan teknologi.
D. METODE PEMBAHARUAN
1. Kondisi Sebelum Inovasi
Sebelum pengembangan HOLI, kegiatan literasi masih cenderung dipahami sebagai aktivitas membaca dan menulis yang berdiri sendiri. Pemanfaatan lingkungan sekolah dan budaya lokal sebagai sumber belajar belum terintegrasi dalam satu sistem kegiatan literasi dan numerasi.
Kegiatan literasi, numerasi, pengenalan budaya, kegiatan berbasis makanan lokal, serta pemanfaatan teknologi belum memiliki satu ruang dan mekanisme yang menghubungkan seluruh aktivitas tersebut secara berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi juga belum diarahkan secara sistematis untuk mendukung dokumentasi, pengelolaan informasi, pemantauan kegiatan, serta pengembangan jejaring pendidikan.
Dengan kondisi tersebut, terdapat kesenjangan antara kebutuhan pembelajaran yang kontekstual dengan tersedianya sistem belajar yang terstruktur.
2. Kondisi Setelah Dilakukan Pembaharuan
HOLI dikembangkan menjadi sebuah ekosistem belajar yang menggunakan Honai Literasi sebagai ruang kegiatan literasi dan numerasi yang kontekstual dengan kehidupan peserta didik.
Kegiatan tidak berhenti pada membaca, tetapi dilanjutkan dengan aktivitas memahami informasi, berdiskusi, melakukan numerasi sederhana, menulis, membuat karya, mengenal budaya lokal, serta menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Contoh kegiatan meliputi : Membaca cerita lokal Amungme dan Kamoro, Membaca bahan bacaan bertema lingkungan dan kehidupan masyarakat, Numerasi berbasis makanan, hasil panen, ikan, dan aktivitas lokal, Menulis dan mendokumentasikan resep makanan tradisional, Kegiatan literasi gizi yang dikaitkan dengan makanan bergizi, Pembuatan karya tulis, poster, puisi, cerita, atau dokumentasi pengenalan teknologi sederhana, Dokumentasi kegiatan dan karya peserta didik.
Pengembangan HOLI selanjutnya diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital sebagai pendukung pengelolaan informasi, dokumentasi, monitoring, serta jejaring pendidikan. Pengembangan digital tersebut dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan sarana, SDM, keamanan data, dan kewenangan pengelola.
E. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN
Keunggulan HOLI terletak pada perubahan pendekatan dari kegiatan literasi biasa menjadi ekosistem belajar berbasis konteks lokal. HOLI tidak memosisikan Honai hanya sebagai tempat membaca, tetapi menjadikannya sebagai ruang belajar yang mempertemukan berbagai bentuk literasi.
1. Berbasis budaya lokal
HOLI menggunakan cerita, lingkungan, makanan, kehidupan masyarakat, dan budaya Amungme dan Kamoro sebagai sumber belajar. Pendekatan ini membuat materi lebih dekat dengan pengalaman peserta didik.
2. Mengintegrasikan literasi dan numerasi
Aktivitas membaca dapat dilanjutkan dengan menghitung, mengukur, membandingkan, membuat tabel, membaca data, atau menyelesaikan masalah sederhana. Contohnya, peserta didik dapat membaca informasi mengenai makanan lokal kemudian menghitung jumlah bahan, porsi, harga, atau nilai sederhana yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
3. Literasi menjadi kegiatan menghasilkan karya
Peserta didik tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi menghasilkan karya berupa tulisan, cerita, resep, poster, puisi, dokumentasi, dan produk pembelajaran lainnya.
4. Mengintegrasikan pembelajaran dengan kehidupan nyata
HOLI memanfaatkan kegiatan sehari-hari sebagai sumber belajar sehingga literasi tidak terasa sebagai tugas tambahan, melainkan menjadi bagian dari kehidupan peserta didik.
5. Mengembangkan teknologi secara bertahap
HOLI dapat dikembangkan dari sistem fisik menuju sistem digital untuk mendukung dokumentasi, pengelolaan informasi, monitoring perkembangan, dan kolaborasi dengan pihak terkait sesuai kewenangan serta kesiapan sekolah.
6. Dapat direplikasi
Konsep HOLI dapat diterapkan pada sekolah lain dengan menyesuaikan isi bacaan, budaya lokal, lingkungan, sumber belajar, dan kebutuhan masing-masing daerah. Dengan demikian, yang dapat direplikasi bukan hanya bangunan Honai, tetapi model pembelajaran dan sistem pengelolaan literasinya.
F. CARA KERJA INOVASI
HOLI dilaksanakan menggunakan alur kerja yang sederhana dan berulang sehingga dapat diterapkan secara konsisten.
Tahap 1 — IDENTIFIKASI
Guru melihat kebutuhan literasi, numerasi, karakter, dan minat siswa.
Data bisa dari asesmen, Rapor Pendidikan, hasil belajar, dan pengamatan guru.
Tahap 2 — PEMILIHAN SUMBER BELAJAR
Guru memilih bahan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Sumber dapat berasal dari:
- buku;
- cerita lokal;
- budaya Amungme dan Kamoro;
- lingkungan sekitar;
- makanan lokal;
- kehidupan masyarakat;
- materi pembelajaran;
- sumber digital yang sesuai.
Tahap 3 — KEGIATAN DI HONAI
Peserta didik melakukan aktivitas literasi dan numerasi di ruang HOLI.
Contohnya:
Baca → pahami → diskusi → hitung → tulis → berkarya.
Tahap 4 — KARYA DAN PRODUK
Peserta didik menghasilkan produk dari kegiatan pembelajaran. Produk dapat berupa cerita, ringkasan, puisi, poster, resep, tabel, hasil perhitungan, gambar, dokumentasi, atau proyek sederhana.
Tahap 5 — DOKUMENTASI
Guru mendokumentasikan kegiatan, hasil karya, partisipasi peserta didik, dan perkembangan pembelajaran. Dokumentasi dapat dilakukan secara fisik maupun digital sesuai sarana yang tersedia.
Tahap 6 — MONITORING
Sekolah memantau:
- jumlah peserta didik yang terlibat;
- frekuensi kegiatan;
- jenis kegiatan;
- hasil karya;
- perkembangan kemampuan literasi dan numerasi;
- keterlibatan guru;
- keterlibatan orang tua/masyarakat;
- kendala pelaksanaan.
Tahap 7 — EVALUASI DAN PERBAIKAN
Hasil monitoring dipakai untuk melihat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.
Guru dan pengelola HOLI melakukan evaluasi rutin dan menyempurnakan kegiatan.
Tahap 8 — PENGEMBANGAN
HOLI dikembangkan secara bertahap melalui:
Penguatan Honai Fisik → Pengayaan Sumber Belajar → Kolaborasi Masyarakat → Dokumentasi Digital → Pengembangan Sistem Informasi → Replikasi.
Dengan tahapan tersebut, HOLI tidak berhenti sebagai kegiatan literasi sekolah, tetapi berkembang menjadi sistem pembelajaran kontekstual yang dapat dikelola, dipantau, dikembangkan, dan direplikasi.
G. POKOK PERUBAHAN
Pokok perubahan yang dilakukan melalui HOLI adalah:
Mengubah kegiatan literasi yang sebelumnya bersifat parsial menjadi ekosistem literasi dan numerasi yang terintegrasi, kontekstual, berbasis budaya lokal, menghasilkan karya, terdokumentasi, serta dapat dikembangkan secara digital dan kolaboratif.
Dengan pendekatan tersebut, Honai tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi menjadi ruang belajar, ruang berkarya, ruang mengenal budaya, dan ruang membangun kebiasaan literasi dan numerasi peserta didik.