Inovasi Daerah

“ SABAR (SApa BAlita di Rumah) ”

Tahap Penerapan Non-digital Tahun 2026

Tujuan

  A. Tujuan Umum:

  • Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan balita melalui penjangkauan aktif berbasis masyarakat guna memastikan seluruh balita mendapatkan pemantauan tumbuh kembang secara optimal.

  B. Tujuan Khusus:

  • Meningkatkan kehadiran balita di posyandu
  • Menjangkau balita yang tidak hadir (drop out) melalui kunjungan rumah
  • Mendeteksi dini masalah kesehatan dan gizi serta cakupan imunisasi pada balita
  • Meningkatkan peran aktif kader dalam pelayanan kesehatan masyarakat
  • Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran orang tua tentang pentingnya kesehatan balita

Manfaat

  A. Bagi Masyarakat:

  • Balita tetap mendapatkan pelayanan kesehatan meskipun tidak hadir di posyandu
  • Orang tua memperoleh edukasi langsung terkait gizi, imunisasi, dan tumbuh kembang Balita
  • Meningkatkan akses layanan kesehatan secara merata

  B. Bagi Kader:

  • Meningkatkan kapasitas dan peran kader dalam pelayanan kesehatan
  • Menambah keterampilan komunikasi dan deteksi dini masalah kesehatan
  • Meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap wilayah binaan

C. Bagi Puskesmas:

  • Data sasaran balita dan imunisasi lebih akurat dan terupdate
  • Meningkatkan cakupan program kesehatan ibu dan anak (KIA)
  • Mempermudah pemantauan dan evaluasi program

D. Bagi Pemerintah/Stakeholder:

  • Mendukung pencapaian indikator bidang Kesehatan khususnya Kesehatan balita
  • Berkontribusi dalam percepatan penurunan stunting
  • Menguatkan sistem pelayanan kesehatan berbasis Masyarakat

Hasil yang dicapai

Dampak Inovasi

   A. Dampak Jangka Pendek:

  • Meningkatnya cakupan kunjungan balita dan cakupan imunisasi (baik di posyandu maupun kunjungan rumah)
  • Ditemukannya balita dengan masalah gizi atau kesehatan secara lebih cepat
  • Meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pemantauan kesehatan anak

   B. Dampak Jangka Menengah:

  • Penurunan jumlah balita yang tidak terpantau (lost follow-up)
  • Perbaikan status gizi balita di wilayah kerja
  • Meningkatnya kualitas pelayanan posyandu

   C. Dampak Jangka Panjang:

  • Penurunan angka stunting dan masalah gizi lainnya
  • Terbentuknya masyarakat yang lebih mandiri dalam menjaga kesehatan anak
  • Peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini

Rancang bangun

I.  DASAR HUKUM 

  • Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

  • Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

  • Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas

  • Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak

  • Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan

  • Kebijakan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK)

  • Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan

II. PERMASALAHAN 

    A. Makro

  1. Masih rendahnya cakupan kunjungan balita ke posyandu

  2. Kurangnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pemantauan tumbuh kembang balita

  3. Adanya hambatan geografis, sosial, dan ekonomi dalam akses pelayanan kesehatan

  4. Belum optimalnya peran kader dalam penjangkauan sasaran aktif

    B. Mikro

  1. Banyak balita tidak hadir saat kegiatan posyandu (drop out)
  2. Tidak terpantau status gizi dan tumbuh kembang secara rutin
  3. Balita risiko tinggi (stunting, BGM, imunisasi tidak lengkap) tidak terdeteksi dini
  4. Kunjungan rumah belum terjadwal dan sistematis

III. ISU STRATEGIS

     A. Global

  1. Target penurunan stunting sebagai bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs)

  2. Pentingnya intervensi dini pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

  3. Peningkatan kualitas kesehatan anak sebagai investasi sumber daya manusia

     B. Nasional

  1. Program percepatan penurunan stunting di Indonesia

  2. Penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat (posyandu aktif)

  3. Transformasi layanan primer dengan pendekatan promotif dan preventif

  4. Optimalisasi peran kader kesehatan dalam sistem pelayanan

    C. Lokal

  1. Tingginya permasalahan stunting dan gizi ballita, jumlah kasus masih sekitar 9-11 % pada tahun 2025 meski sudah menurun.

  2. Belum optimalnya cakupan pelayanan posyandu

  3. Masalah perilaku dan kesadaran Masyarakat

  4. Kualitas lingkungan dan sanitasi

  5. Optimalisasi peran kader posyandu

IV. METODE PEMBAHARUAN 

     A. Sebelum Inovasi :

  1. Pelayanan posyandu bersifat pasif (menunggu sasaran datang)

  2. Kader belum melakukan penjangkauan aktif secara terstruktur

  3. Terjadwal secara rutin Sweping dilakukan secara terpisah oleh masing-masing program

    B. Sesudah Inovasi : 

  1. Dilakukan sweeping balita melalui kunjungan rumah oleh kader lintas program

  2. Penjangkauan aktif terhadap balita yang tidak hadir di posyandu

  3. Pemanfaatan data sasaran untuk pemetaan balita berisiko

  4. Kunjungan rumah terjadwal dan terkoordinasi dengan tenaga Kesehatan lintas program dan kader

  5. Edukasi langsung kepada orang tua di rumah

V. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN

  1. Pendekatan aktif (door to door) sweping aktif lintas program dan kader untuk meningkatkan cakupan pelayanan Balita
  2. Deteksi dini masalah gizi dan kesehatan balita lebih cepat
  3. Memperkuat peran kader sebagai ujung tombak pelayanan Kesehatan
  4. Data balita lebih akurat dan terupdate
  5. Meningkatkan kedekatan dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan
  6. Intervensi lebih tepat sasaran, khususnya pada balita risiko tinggi

VI. CARA KERJA INOVASI

  1. Identifikasi Sasaran
  2. Kader mendata balita yang tidak hadir di posyandu
  3. Perencanaan Kunjungan
  4. Menyusun jadwal sweeping berdasarkan wilayah dan prioritas
  5. Pelaksanaan Kunjungan Rumah
  6. Kader dan tenaga Kesehatan lintas program melakukan kunjungan ke rumah balita
  7. Melakukan pemantauan sederhana (BB, TB, kondisi umum) dan riwayat Imunisasi balita
  8. Memberikan edukasi kepada orang tua
  9. Pencatatan dan Pelaporan
  10. Hasil kunjungan dicatat dalam format monitoring
  11. Tindak Lanjut
  12. Balita bermasalah dirujuk atau dipantau lebih lanjut oleh petugas kesehatan
  13. Evaluasi Berkala, Dilakukan evaluasi cakupan dan efektivitas kegiatan sweeping

← Kembali ke daftar inovasi

Nilai Website Kami

Bantu Kami Meningkatkan Website Pemkab Mimika

Sampaikan pengalaman Anda menggunakan website resmi Pemerintah Kabupaten Mimika. Masukan Anda membantu kami meningkatkan kualitas informasi dan layanan digital.

Mulai Survei