Inovasi Daerah

TONG PU ROKET

Tahap Ujicoba Digital Tahun 2026

Tujuan

TUJUAN 1: Transformasi Organisasi BRIDA Berbasis Nilai Gotong Royong

Mengubah budaya kerja BRIDA menjadi organisasi yang kolaboratif, mendukung inovasi, dan berorientasi pada hasil.

TUJUAN 2: Integrasi Semua Data Riset & Inovasi dalam Satu Ekosistem Digital

Membangun infrastruktur teknologi informasi yang mengintegrasikan semua data riset dan inovasi dalam satu platform terpusat.

TUJUAN 3: Perkuat Budaya Penelitian & Inovasi di Semua Level Organisasi

Meningkatkan jumlah ASN, peneliti, dan inovator yang terlibat aktif dalam kegiatan riset dan inovasi.

TUJUAN 4: Tingkatkan Kualitas Kebijakan Berbasis Bukti (Evidence-Based Policy)

Memfasilitasi linkage antara penelitian dan pengambilan kebijakan sehingga kebijakan publik semakin berbasis bukti empiris.

TUJUAN 5: Dorong Kolaborasi Pentahelix yang Efektif & Terukur

Membangun ekosistem riset dan inovasi yang melibatkan lima pemangku kepentingan utama dalam sinergi yang terukur.

TUJUAN 6: Tingkatkan HKI, Publikasi Ilmiah & Inovasi Daerah

Meningkatkan jumlah dan kualitas output penelitian: publikasi ilmiah, pendaftaran HKI, dan inovasi yang diakui dan diimplementasikan.

Manfaat

  • Kebijakan publik yang lebih berkualitas, efektif, dan efisien berbasis bukti empiris
  • Peningkatan Indeks Inovasi Daerah yang menjadi indikator daya saing regional
  • Efisiensi alokasi anggaran riset melalui koordinasi dan eliminasi duplikasi
  • Peningkatan reputasi dan kredibilitas pemerintah daerah

2. Manfaat bagi BRIDA

  • Penguatan fungsi sebagai pusat koordinasi riset dan inovasi daerah yang kredibel
  • Basis data riset dan inovasi yang komprehensif untuk analisis dan perencanaan strategis
  • Peningkatan efektivitas program dan layanan BRIDA melalui monitoring real-time
  • Kapabilitas organisasi yang lebih modern dan profesional

3. Manfaat bagi OPD

  • Akses ke layanan riset dan inovasi profesional yang mudah dan terjangkau
  • Peningkatan kapabilitas dalam penyusunan kajian dan kebijakan berbasis riset
  • Solusi inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan operasional
  • Recognition dan insentif untuk kontribusi inovasi

4. Manfaat bagi Perguruan Tinggi

  • Peluang kolaborasi penelitian dengan pemerintah daerah yang terstruktur
  • Publikasi bersama yang meningkatkan output dan impact penelitian
  • Koneksi dengan sektor swasta untuk hilirisasi penelitian
  • Peluang funding dan grant dari pemerintah daerah

5. Manfaat bagi Industri & Pelaku Usaha

  • Akses ke hasil riset dan teknologi terbaru untuk inovasi produk
  • Kolaborasi dengan peneliti untuk R&D dan problem solving
  • Peluang hilirisasi dan commercialization teknologi
  • Kontribusi pada inovasi daerah yang meningkatkan kompetitivitas

6. Manfaat bagi Masyarakat

  • Akses ke layanan konsultasi dan pendampingan riset
  • Pendampingan pengembangan inovasi dari ide hingga implementasi
  • Perlindungan HKI untuk karya dan inovasi lokal
  • Peningkatan kesejahteraan melalui akses hasil riset dan inovasi

Hasil yang dicapai

Implementasi TONG PU ROKET diproyeksikan akan menghasilkan:

  • Peningkatan signifikan dalam jumlah dan kualitas penelitian daerah
  • Peningkatan publikasi ilmiah nasional dan internasional
  • Peningkatan perolehan HKI dan perlindungan aset kekayaan intelektual
  • Dokumentasi dan implementasi inovasi OPD yang lebih terukur
  • Peningkatan Indeks Inovasi Daerah secara signifikan
  • Kebijakan daerah yang semakin berbasis bukti dan evidence
  • Ekosistem riset dan inovasi yang lebih kuat melalui kolaborasi pentahelix

Rancang bangun

1. DASAR HUKUM

Pelaksanaan inovasi TONG PU ROKET dilandasi oleh berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan strategis nasional, sebagai berikut:

  • Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
  • Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
  • Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pemerintahan Daerah
  • Peraturan Menteri PANRB Nomor 30 Tahun 2014 tentang Pedoman Inovasi Pelayanan Publik
  • Peraturan Menteri PANRB Nomor 5 Tahun 2023 tentang Inovasi Pelayanan Publik
  • Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2021 tentang Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia
  • Roadmap Inovasi Nasional 2025-2045 (Kemenristek/BRIN)
  • Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Mimika Tahun 2023-2028
  • Peraturan Bupati Mimika tentang Pembentukan dan Tata Kelola BRIDA

2. PERMASALAHAN

a. Permasalahan Makro

Pada tataran makro, ekosistem riset dan inovasi di Kabupaten Mimika menghadapi tantangan struktural yang signifikan:

  • Fragmentasi Sistem Riset dan Inovasi: Data riset dan inovasi tersebar di berbagai institusi tanpa integrasi.
  • Disjungsi Penelitian-Kebijakan: Hasil riset kurang terlihat dalam pengambilan keputusan kebijakan publik.
  • Kurangnya Kolaborasi Multi-Sektor: Kolaborasi pentahelix masih terbatas dan tidak terstruktur.
  • Rendahnya Output Riset: Publikasi ilmiah dan HKI masih jauh di bawah potensi daerah.
  • Kesulitan Hilirisasi Inovasi: Inovasi yang dihasilkan sulit diakses dan diimplementasikan.
  • Transformasi Digital Tertinggal: BRIDA dan OPD belum memanfaatkan teknologi digital secara optimal.

b. Permasalahan Mikro

Pada level operasional, permasalahan yang dihadapi oleh BRIDA Kabupaten Mimika mencakup:

  • Tidak Adanya Portal Riset Terpadu: Peneliti dan OPD harus mengurus berbagai layanan ke tempat yang berbeda.
  • Manajemen Data Manual: Pencatatan hasil penelitian masih manual dan tidak terstruktur.
  • Kapasitas SDM Terbatas: Keterbatasan SDM BRIDA dalam mengelola sistem riset modern.
  • Infrastruktur Teknologi Minimal: BRIDA belum memiliki infrastruktur IT yang memadai.
  • Komunikasi Internal Lemah: Koordinasi antar unit BRIDA kurang efektif.
  • Monitoring dan Evaluasi Lemah: Belum ada mekanisme sistematis untuk monitoring real-time.

3. ISU STRATEGIS

a. Isu Global

  • Transformasi Digital Global: Dunia mengalami akselerasi transformasi digital dalam semua sektor.
  • Ekonomi Berbasis Pengetahuan: Pertumbuhan ekonomi semakin bergantung pada kapasitas inovasi.
  • Sustainable Development Goals (SDGs): Agenda pembangunan berkelanjutan mendorong integrasi riset.
  • Open Science & Collaborative Research: Tren mengarah pada kolaborasi penelitian terbuka dan multi-disiplin.

b. Isu Nasional

  • Visi Merdeka Belajar dan Riset: Kemenristek/BRIN menempatkan daerah sebagai pusat inovasi lokal.
  • Indeks Inovasi Daerah (IID): Pemerintah menilai kinerja daerah melalui IID.
  • Satu Data Indonesia: Mendorong integrasi data di seluruh lembaga pemerintah.
  • Gerakan BBI (Bangga Buatan Indonesia): Program presidensial mendorong produk unggulan yang inovatif.
  • SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik): Transformasi digital pemerintahan menjadi mandatory.

c. Isu Lokal

  • Potensi Kekayaan Alam & Sumber Daya Lokal: Kabupaten Mimika dapat menjadi basis riset dan inovasi lokal.
  • Kebutuhan Solusi Lokal: Permasalahan pembangunan memerlukan riset dan inovasi berbasis solusi lokal.
  • Peluang Dana Otonomi Khusus: Alokasi Dana Otonomi Khusus Papua untuk program inovatif.
  • Urgensi Kemandirian Daerah: Mimika perlu membangun kapasitas riset lokal untuk pembangunan berkelanjutan.

4. METODE PEMBAHARUAN

TONG PU ROKET menghadirkan transformasi fundamental dalam tata kelola ekosistem riset dan inovasi di Kabupaten Mimika, melampaui model konvensional.Yang sebelumnya bernama Sirida Kami, namun sekarang mengalami pengembangan.

a. Perbandingan Sebelum dan Sesudah Penerapan Inovasi

  • SEBELUM: Portal riset terpisah-pisah untuk setiap layanan
  • SESUDAH: Portal riset digital terpadu (one-stop service)
  • SEBELUM: Data riset manual, tidak terstruktur, tersebar di berbagai tempat
  • SESUDAH: Bank data penelitian terpusat, terstruktur, mudah diakses dan dicari
  • SEBELUM: Inovasi OPD tidak terdokumentasi dengan baik
  • SESUDAH: Bank Inovasi Daerah dengan registry lengkap dan TRL assessment
  • SEBELUM: Monitoring riset manual, tidak real-time
  • SESUDAH: Dashboard riset real-time dengan visualisasi comprehensive
  • SEBELUM: HKI diproses secara ad-hoc tanpa sistem terpadu
  • SESUDAH: Dashboard HKI dengan tracking terintegrasi
  • SEBELUM: Kolaborasi pentahelix tidak terstruktur dan sporadis
  • SESUDAH: Platform kolaborasi pentahelix digital yang terfasilitasi sistematis
  • SEBELUM: Pencatatan kemajuan penelitian tidak terjadwal dan tidak akurat
  • SESUDAH: Sistem monitoring penelitian digital dengan early warning system
  • SEBELUM: Hasil riset jarang dikonversi menjadi policy brief
  • SESUDAH: Policy Brief Center untuk produksi rekomendasi kebijakan sistematis
  • SEBELUM: Naskah akademik tidak terstandar
  • SESUDAH: Platform naskah akademik digital dengan template dan guideline standar
  • SEBELUM: Tidak ada peta jalan riset yang terekspos publik
  • SESUDAH: Peta jalan riset daerah terintegrasi dengan SDGs dan program nasional
  • SEBELUM: Pendampingan riset tidak sistematis
  • SESUDAH: Platform pendampingan digital menghubungkan peneliti dengan mentor profesional
  • SEBELUM: KPI BRIDA tidak terintegrasi dalam satu dashboard
  • SESUDAH: Indikator kinerja terintegrasi dengan real-time dashboard dan automated reporting

5. KEUNGGULAN / KEBAHARUAN

TONG PU ROKET memiliki keunggulan dan aspek kebaharuan yang membedakannya dari sistem manajemen riset konvensional maupun inovasi sejenis di daerah lain:

  • 1. Integrasi 12 Komponen Digital Kohesif: Inovasi pertama yang mengintegrasikan dua belas komponen digital yang saling terhubung dalam satu ekosistem riset dan inovasi yang kohesif.
  • 2. One-Stop Service Digital: Memberikan single point of entry untuk semua layanan riset.
  • 3. Dashboard Real-Time: Visualisasi data riset real-time yang comprehensive.
  • 4. Platform Kolaborasi Pentahelix Digital: Menghubungkan lima pemangku kepentingan.
  • 5. Policy Brief Center: Unit khusus mengkonversi hasil riset menjadi policy brief.
  • 6. Sistem Monitoring Otomatis: Pelacakan real-time dengan early warning system.
  • 7. Bank Data Penelitian Terpusat: Repository metadata penelitian yang terstruktur.
  • 8. Bank Inovasi Daerah: Sistem database mendokumentasikan semua inovasi OPD.
  • 9. Platform Pendampingan Digital: Menghubungkan peneliti dengan mentor profesional.
  • 10. Alignment dengan SDGs: Peta jalan riset tervisualisasi dengan jelas.
  • 11. Filosofi Gotong Royong: Nilai-nilai lokal dalam desain ekosistem digital.
  • 12. Scalability & Interoperability: Arsitektur teknologi yang scalable dan interoperable.

6. CARA KERJA INOVASI

TONG PU ROKET beroperasi melalui alur layanan end-to-end yang sistematis, meliputi sepuluh tahapan:

  • TAHAP 1 - Registrasi & Identifikasi Kebutuhan: Peneliti atau OPD melakukan registrasi di portal. Sistem melakukan intake interview. Data diinput otomatis.
  • TAHAP 2 - Penugasan Pendamping & Perencanaan: Sistem otomatis mencocokkan kebutuhan dengan kompetensi pendamping.
  • TAHAP 3 - Konsultasi & Pendampingan: Konsultasi dilakukan secara daring melalui video conference dan chat.
  • TAHAP 4 - Kolaborasi & Networking: Klien mengakses platform kolaborasi pentahelix.
  • TAHAP 5 - Pelaksanaan Penelitian & Monitoring: Progress monitoring dilakukan real-time melalui dashboard.
  • TAHAP 6 - Publikasi Ilmiah: Platform menyediakan template, guideline, dan tool.
  • TAHAP 7 - Perlindungan HKI: Dashboard HKI membantu identifikasi dan tracking.
  • TAHAP 8 - Rekomendasi Kebijakan: Policy Brief Center mengkonversi hasil riset.
  • TAHAP 9 - Hilirisasi & Implementasi Inovasi: Inovasi diintegrasikan ke operasional OPD.

TAHAP 10 - Monitoring, Evaluasi & Pembelajaran: Data dianalisis untuk pembelajaran organisasi.

← Kembali ke daftar inovasi

Nilai Website Kami

Bantu Kami Meningkatkan Website Pemkab Mimika

Sampaikan pengalaman Anda menggunakan website resmi Pemerintah Kabupaten Mimika. Masukan Anda membantu kami meningkatkan kualitas informasi dan layanan digital.

Mulai Survei