Inovasi Daerah

LINDA (Layanan Kesehatan Terintegrasi Dengan Pendekatan Keluarga)

Tahap Penerapan Non-digital Tahun 2025

Tujuan

  1. Memudahkan masyarakat untuk mendapatkan akses layanan kesehatan
  2. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kesehatan
  3. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk deteksi dini penyakit
  4. Menurunkan angka kejadian penyakit menular dan tidak menular di masyarakat

Manfaat

  1. Masyarakat menjadi mudah mendapatkan layanan kesehatan tanpa perlu berkunjung ke fasilitas kesehatan
  2. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya deteksi dini penyakit menular dan tidak menular
  3. Meningkatnya perilaku hidup bersih dan sehat pada tatanan rumah tangga
  4. Menurunnya angka kesakitan di masyarakat

Hasil yang dicapai

capaian IKS

Rancang bangun

I. DASAR HUKUM

  1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
  2. Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
  3. Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan
  4. Undang-Undang No. 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas
  5. Permenkes No. 39 Tahun 2016 Tentang PIS-PK
  6. Kepmenkes No. 279 Tahun 20016 tentang Perkesmas

    II. PERMASALAHAN

    1. MAKRO

    Adapun permasalahan bidang kesehatan di kabupaten Mimika setelah kami identifikasi adalah sebagai berikut :

    a. Akses layanan kesehatan yang belum merata:

    1) Distribusi fasilitas kesehatan yang tidak merata, dengan sebagian besar puskesmas dan rumah sakit terpusat di kota Timika, sedangkan di daerah pedalaman masih minim akses layanan kesehatan.

    2) Kekurangan tenaga kesehatan, terutama dokter dan spesialis, di beberapa daerah.

    3)Infrastruktur jalan dan transportasi yang belum memadai, sehingga menyulitkan masyarakat di daerah terpencil untuk menjangkau layanan kesehatan.

    b. Tingginya angka penyakit menular:

    1)Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA): ISPA masih menjadi salah satu penyakit terbanyak di Mimika, terutama pada anak-anak.

    2)Tuberkulosis (TB): Angka kejadian TB di Mimika masih cukup tinggi, dan menjadi salah satu penyebab kematian utama di daerah ini.

    3)Malaria: Malaria masih menjadi masalah kesehatan di beberapa wilayah di Mimika, terutama di daerah pesisir dan dataran rendah.

    4)HIV/AIDS: Angka prevalensi HIV/AIDS di Mimika tergolong tinggi, dan menjadi salah satu fokus utama dalam penanggulangan penyakit menular di daerah ini.

    c. Masalah kesehatan terkait gizi:

    1)Stunting: Prevalensi stunting di Mimika masih cukup tinggi, terutama pada anak balita di daerah pedalaman.

    2)Kurang gizi: Kekurangan gizi pada anak-anak masih menjadi masalah di beberapa wilayah di Mimika.

    d. Masalah kesehatan lingkungan:

    1)Aksesair bersih dan sanitasi yang belum memadai: Hal ini menyebabkan tingginya angka penyakit yang terkait dengan sanitasi yang buruk, seperti diare dan penyakit cacingan.

    2)Lingkunganyang tercemar: Pencemaran lingkungan, seperti pencemaran udara dan air, dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti penyakit pernapasan dan kanker.

    2. MIKRO

    Adapun permasalahan bidang kesehatan di Puskesmas Timika setelah kami identifikasi yang merupakan pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM Esensial) adalah sebagai berikut :

    a. Capaian Pelayanan Promosi Kesehatan belum sesuai harapan (51.8%)

    b. Capaian Pelayanan Kesehatan Lingkungan belum sesuai harapan (51.8%)

    c. Capaian Pelayanan KIA-KB belum sesuai harapan (21.5%)

    d. Capaian Pelayanan Gizi Masyarakat belum sesuai harapan (39.0%)

    e.Capaian Pelayanan Pengandalian dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak Menular belum sesuai harapan (64.2%)

    III. ISU STRATEGIS

    1. ISU GLOBAL:

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ketiga dengan fokus pada “Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua pada semua usia”.

    a. Mengurangi rasio kematian ibu secara global hingga kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup.

    b. Mengakhiri kematian bayi baru lahir dan balita yang dapat dicegah.

    c. Mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis terabaikan lainnya, serta memerangi hepatitis, penyakit menular seksual, dan penyakit menular lainnya.

    d. Mengurangi dengan separuh jumlah kematian akibat penyakit tidak menular kronis pada tahun 2030,

    e. Memastikan akses universal ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk perencanaan keluarga, informasi dan edukasi, dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang aman dan efektif.

    f.Mencapai cakupan kesehatan universal, termasuk akses yang adil ke layanan kesehatan esensial yang berkualitas, obat-obatan dan produk kesehatan yang aman, efektif, terjangkau, dan berkualitas, dan tenaga kesehatan yang terampil.

    2. ISU NASIONAL

    a. Ketersediaan dan Kualitas Tenaga Kesehatan: Masih ada ketimpangan distribusi tenaga kesehatan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Banyak daerah terpencil kekurangan tenaga kesehatan, baik dokter, perawat, maupun bidan. Selain itu, kualitas pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian.

    b. Akses Pelayanan Kesehatan: Akses terhadap layanan kesehatan masih belum merata. Daerah-daerah terpencil sering kali sulit dijangkau dan minim fasilitas kesehatan. Masalah infrastruktur, seperti transportasi dan komunikasi, turut mempengaruhi akses ini.

    c. Pendanaan dan Pembiayaan Kesehatan: Pembiayaan kesehatan yang terbatas menjadi kendala dalam penyediaan layanan yang berkualitas. Meskipun ada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), masih ada tantangan dalam hal pengelolaan dan keberlanjutan dana.

    d. Penyakit Menular dan Tidak Menular: Penyakit menular seperti tuberculosis, malaria, dan HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan utama. Selain itu, penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung juga meningkat dan memerlukan perhatian serius.

    e. Kualitas Pelayanan Kesehatan: Masih ada keluhan terkait kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan, termasuk waktu tunggu yang lama, pelayanan yang kurang ramah, dan ketersediaan obat yang terbatas.

    3. ISU LOKAL :

    Kabupaten ini juga menghadapi masalah kesehatan spesifik, seperti malaria yang masih cukup tinggi, serta masalah kesehatan masyarakat lainnya seperti gizi kurang dan penyakit menular.

    IV. METODE PEMBAHARUAN

    1. Sebelum Adanya Inovasi

    Setelah diidentifikasi data capaian Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat pada tahun 2023 sebagai berikut;

    a. Capaian Pelayanan Promosi Kesehatan belum sesuai harapan (86.1%)

    b. Capaian Pelayanan Kesehatan Lingkungan belum sesuai harapan (108.1%)

    c. Capaian Pelayanan KIA-KB belum sesuai harapan (60.1%)

    d. Capaian Pelayanan Gizi Masyarakat belum sesuai harapan (63.5%)

    e. Capaian Pelayanan Pengandalian dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak Menular belum sesuai harapan (70.6%)

    2. Setelah Adanya Inovasi

    Setelah adanya inovasi dapat dilihat capaian kinerja pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) pada tahun 2024 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Adapun capaian kinerja pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) sebagai berikut :

    a. Capaian Pelayanan Promosi Kesehatan meningkat menjadi (97.91%)

    b. Capaian Pelayanan Kesehatan Lingkungan meningkat menjadi (93.80%)

    c. Capaian Pelayanan KIA-KB meningkat menjadi (68.26%)

    d. Capaian Pelayanan Gizi Masyarakat meningkat menjadi (57.26%)

    e. Capaian Pelayanan Pengandalian dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak Menular meningkat menjadi (72.40%)

    V. KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

    Program ini adalah untuk mendekatkan dan meningkatkan akses layanan kesehatan kepada Masyarakat dan meningkatkan indeks keluarga sehat di wilayah kerja Puskesmas Timika.

    VI. CARA KERJA INOVASI

    Alur inovasi ini dimulai dari pembentukan Tim Pendataan PIS-PK kemudian melakukan pertemuan lintas sektor untuk mensosialisasikan terkait dengan pelaksanaan pendataan PIS-PK, Capaian Kinerja Program dan jadwal kunjungan keluarga sehat. Setelah itu Tim melakukan pendataan keluarga sehat, jika ditemukan masalah saat melakukanpendataanintervensi awal kepada keluarga meliputi pendataan keluarga dan status kesehatan keluarga melalui 12 indikator PIS-PK, kemudian hasilnya diinputkan kedalam Aplikasi Keluarga Sehat, selanjutnya dilakukan analisis data untuk menentukan masalah Kesehatan, setelah itu ditentukan intervensi secara berkelanjutan yang terintegrasi dengan pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dengan pendekatan keluarga yang kemudian dipantau dalam aplikasi PIS-PK.

← Kembali ke daftar inovasi

Nilai Website Kami

Bantu Kami Meningkatkan Website Pemkab Mimika

Sampaikan pengalaman Anda menggunakan website resmi Pemerintah Kabupaten Mimika. Masukan Anda membantu kami meningkatkan kualitas informasi dan layanan digital.

Mulai Survei