Inovasi Daerah

GARDU CETING (GERAKAN TERPADU PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DI PUSKESMAS KWAMKI)

Tahap Penerapan Non-digital Tahun 2025

Tujuan

  • TUJUAN INOVASI DAERAH

-  GARDU CETING bertujuan untuk :

  1. Mempercepat penurunan jumlah balita stunting di wilayah kerja BLUD Puskesmas Kwamki.

  2. Meningkatkan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan gizi.

  3. Meningkatkan cakupan intervensi gizi bagi balita dan ibu hamil KEK.

  4. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang gizi dan pola asuh.

  5. Meningkatkan kepatuhan keluarga dalam mengikuti Posyandu.

  6. Meningkatkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.

  7. Memperkuat peran kader dalam pendampingan keluarga

  8. Meningkatkan kualitas data sasaran stunting

  9. Memperkuat kolaborasi lintas program dan lintas sektor

  10. Mewujudkan pelayanan kesehatan yang proaktif, terintegrasi, dan berkelanjutan

Manfaat

  • Manfaat yang Diperoleh

A. Bagi Balita

  1. Mendapatkan pemantauan pertumbuhan secara berkala

  2. Mendapatkan intervensi gizi sesuai kebutuhan

  3. Mendapatkan PMT sesuai sasaran

  4. Mendapatkan pelayanan lebih dekat dengan tempat tinggal

  5. Mendapatkan tindak lanjut apabila ditemukan masalah kesehatan

B. Bagi Ibu Hamil KEK

  1. Mendapatkan pendampingan gizi.

  2. Mendapatkan PMT sesuai program

  3. Mendapatkan pemantauan kesehatan kehamilan

  4. Meningkatkan pengetahuan mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan

C. Bagi Keluarga

  1. Meningkatkan pengetahuan tentang gizi.

  2. Meningkatkan kemampuan keluarga menerapkan pola asuh dan pemberian makan yang sesuai kebutuhan gizi anak

  3. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat anak

  4. Meningkatkan kesadaran membawa anak ke Posyandu

  5. Mengurangi hambatan akses pelayanan kesehatan

D. Bagi Kader

  1. Meningkatkan kapasitas kader

  2. Meningkatkan kemampuan melakukan pendampingan keluarga

  3. Meningkatkan keterlibatan kader dalam pencegahan stunting

E. Bagi Puskesmas

  1. Mempermudah pemetaan sasaran

  2. Meningkatkan cakupan pelayanan

  3. Memperkuat monitoring dan evaluasi

  4. Meningkatkan ketepatan intervensi

  5. Memperkuat pelayanan berbasis keluarga

Hasil yang dicapai

  • HASIL INOVASI

A. SEBELUM PENGEMBANGAN

  • Data jumlah balita stunting:
TahunJumlah
202394 balita
202475 balita
2025123 balita

   * Data tersebut menjadi dasar perlunya penguatan dan pengembangan GARDU CETING.

B. SETELAH PENGEMBANGAN

 1.  Pada Triwulan II Tahun 2026, jumlah balita stunting tercatat :  65 BALITA

   2.  Jika dibandingkan dengan tahun 2025 :

       123 balita → 65 balita

     * terjadi penurunan: 58 BALITA atau sekitar : 47,2% , berdasarkan perbandingan jumlah kasus yang tersedia.

C. CAPAIAN PENGEMBANGAN GARDU CETING TAHUN 2026

  Pengembangan GARDU CETING menghasilkan beberapa capaian utama:

1. Penurunan jumlah balita stunting

     123 balita pada 2025 menjadi 65 balita pada TW II 2026.

2. Intervensi PMT balita 

    90 balita mendapatkan PMT lokal secara intensif selama 90 hari.

3. Intervensi ibu hamil KEK

     Ibu hamil yang teridentifikasi KEK mendapatkan PMT selama 120 hari sesuai intervensi yang    ditetapkan.

4. Penguatan kader

   57 kader dilibatkan dalam pelaksanaan pendampingan dan pelayanan berbasis masyarakat.

5. Home Visit

  Pelayanan dikembangkan melalui kunjungan rumah sehingga sasaran yang memiliki hambatan akses tetap dapat    memperoleh pendampingan.

6. Penguatan data

   Pemantauan dan pelaporan diperkuat melalui pemanfaatan sistem informasi gizi.

    D. DAMPAK INOVASI

1. Dampak terhadap balita

   Meningkatnya akses balita terhadap pemantauan pertumbuhan dan intervensi gizi.

2. Dampak terhadap keluarga

  Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak.

3. Dampak terhadap akses pelayanan

   Keluarga yang mengalami hambatan geografis dan transportasi dapat memperoleh pelayanan melalui  pendekatan home visit.

4. Dampak terhadap kader

  Meningkatnya peran dan kapasitas kader sebagai pendamping keluarga.

5. Dampak terhadap Puskesmas

  Meningkatnya kemampuan Puskesmas dalam melakukan identifikasi, intervensi, monitoring dan   evaluasi sasaran stunting.

6. Dampak terhadap pemerintah daerah

  Mendukung pelaksanaan percepatan penurunan stunting Kabupaten Mimika melalui pelayanan yang lebih terintegrasi, terukur dan berbasis data.

E. POKOK PERUBAHAN PADA TAHAP PENGEMBANGAN

AspekSebelumSetelah Pengembangan
PendekatanPasifProaktif/jemput bola
Lokasi pelayananPuskesmas/PosyanduPuskesmas, Posyandu dan rumah sasaran
PMTTerbatas pada kegiatan tertentuTerstruktur dan berbasis sasaran
BalitaDipantau saat datangDipantau secara berkala
Ibu hamil KEKPendampingan rutinDiperkuat dengan PMT 120 hari
KaderPendukung PosyanduPendamping aktif keluarga
Kunjungan rumahBelum optimalMenjadi bagian utama inovasi
DataPencatatan pelayananMonitoring dan pelaporan diperkuat secara digital
KolaborasiProgram internalLintas program dan lintas sektor
EvaluasiPeriodikMonitoring berkelanjutan
Sasaran PMTUmum/terbatasTeridentifikasi dan terukur
Jumlah kader-57 kader
Sasaran balita PMT-90 balita
Durasi PMT balita-90 hari
Durasi PMT ibu hamil KEK-120 hari
Stunting123 balita (2025)65 balita (TW II 2026)

I. KONSEP UTAMA PENGEMBANGAN GARDU CETING

  Pengembangan GARDU CETING Tahun 2026 tidak lagi hanya dimaknai sebagai kegiatan pemberian makanan tambahan, tetapi

 menjadi model pelayanan terpadu berbasis keluarga.

  • Konsep pengembangannya adalah:

  “DARI MENUNGGU SASARAN MENJADI MENJEMPUT SASARAN.”

  “DARI PMT SESAAAT MENJADI INTERVENSI TERSTRUKTUR.”

  “DARI PELAYANAN DI PUSKESMAS MENJADI PENDAMPINGAN SAMPAI KE RUMAH.”

  “DARI DATA TERPISAH MENJADI MONITORING BERBASIS DATA.”

  “DARI PROGRAM SEKTORAL MENJADI GERAKAN TERPADU.”

    Dengan pendekatan tersebut, GARDU CETING diharapkan menjadi inovasi pelayanan publik yang mampu memperkuat upaya

 pencegahan, deteksi dini, intervensi, pendampingan, pemantauan dan evaluasi stunting di wilayah kerja BLUD Puskesmas

 Kwamki.

 * RINGKASAN PERUBAHAN UTAMA GARDU CETING

 - 2023 → 94 balita stunting
     ↓
 - 2024 → 75 balita stunting
     ↓
 - 2025 → 123 balita stunting
    ↓
          * PENGEMBANGAN 2026


  → Home Visit


  → 57 Kader


  → 90 Balita PMT 90 Hari


  → Ibu Hamil KEK PMT 120 Hari


 → Edukasi Keluarga


 → Pemantauan Pertumbuhan


 → Pelaporan SIGIZI KESGA
           ↓

  • TW II 2026 → 65 BALITA STUNTING
  • GARDU CETING 2026: IDENTIFIKASI → JEMPUT → DAMPINGI → INTERVENSI → PANTAU → EVALUASI → TINDAK

     LANJUT.

Rancang bangun

A. DASAR HUKUM

Pelaksanaan GARDU CETING berlandaskan pada kebijakan nasional dan daerah mengenai kesehatan, gizi, pelayanan kesehatan primer, serta percepatan penurunan stunting.

  1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
  3. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
  4. Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Kesehatan.
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat.
  6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2025–2029.
  7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.
  8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan.
  9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1928/2022 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting.
  10. Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Nomor HK.02.02/B/1664/2026 tentang Penetapan Lokus/Wilayah Pendampingan Insentif Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2026.
  11. Peraturan Bupati Mimika Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Mimika Nomor 53 Tahun 2023 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
  12. Peraturan Bupati Mimika Nomor 49 Tahun 2024 tentang Penetapan Inovasi Daerah.
  13. Peraturan Bupati Mimika Nomor 59 Tahun 2025 tentang Penetapan Inovasi Daerah Tahun 2025.

       B. PERMASALAHAN

  • 1. Makro
  • Permasalahan kesehatan masyarakat di Kabupaten Mimika yang berkaitan dengan percepatan penurunan stunting antara lain :

    a. Masih terdapat masalah gizi pada ibu dan anak

       Masalah gizi pada ibu hamil, bayi, dan balita masih menjadi salah satu tantangan pembangunan kesehatan. Kekurangan

      asupan gizi, penyakit infeksi, pola asuh, kondisi sosial ekonomi, sanitasi, dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan dapat

     memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

    b. Akses pelayanan kesehatan belum merata

    Kondisi geografis Kabupaten Mimika menyebabkan sebagian masyarakat mengalami hambatan dalam mengakses pelayanan

     kesehatan, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan transportasi dan akses terhadap fasilitas

     kesehatan.

    c. Masih terdapat keluarga berisiko stunting

    Keluarga dengan ibu hamil KEK, bayi dengan berat badan lahir rendah, balita dengan masalah pertumbuhan, balita gizi

     kurang, dan keluarga dengan keterbatasan pengetahuan mengenai gizi membutuhkan pendampingan yang lebih intensif.

    d. Belum optimalnya kesinambungan intervensi

     Intervensi stunting tidak cukup hanya dilakukan pada saat Posyandu. Diperlukan pemantauan berkelanjutan, kunjungan

     rumah, edukasi keluarga, pemberian makanan tambahan sesuai sasaran, pemantauan pertumbuhan, dan tindak lanjut.

    e. Perlunya penguatan kolaborasi lintas program dan lintas sektor

      Percepatan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan Puskesmas, kader, pemerintah distrik, pemerintah kampung, keluarga, tokoh masyarakat, serta sektor terkait lainnya.

    2. Mikro

    Berdasarkan hasil identifikasi di wilayah kerja BLUD Puskesmas Kwamki, masih ditemukan permasalahan:

    a. Masih terdapat balita yang mengalami stunting.


    b. Masih terdapat ibu hamil dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK).


    c. Kehadiran sebagian sasaran pada kegiatan Posyandu belum optimal.


    d. Jarak dan kondisi geografis menjadi hambatan bagi sebagian keluarga untuk mengakses pelayanan.


    e. Pengetahuan keluarga mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu ditingkatkan.


    f. Pemberian PMT belum sepenuhnya menjangkau keluarga sasaran secara berkelanjutan.


    g. Pemantauan pertumbuhan anak membutuhkan kunjungan rumah secara berkala.


    h. Diperlukan keterlibatan kader secara lebih aktif dalam pendampingan keluarga.


    i. Data sasaran membutuhkan pemutakhiran dan pemantauan secara berkala.


    j. Diperlukan integrasi antara intervensi gizi, pelayanan kesehatan, edukasi, pemantauan pertumbuhan, dan pelaporan.

    C. DATA PERKEMBANGAN MASALAH STUNTING

  • TAHUN

    JUMLAH BALITA STUNTING

    KETERANGAN

    2023

      94 balita

      Kondisi sebelum penerapan inovasi

    2024

     75 balita  

     Tahun awal penerapan inovasi

    2025

     123 balita 

     Evaluasi dan penguatan intervensi

    TW II 2026

    65 balita 

     Hasil pengembangan GARDU CETING

        *Data tersebut menunjukkan bahwa setelah dilakukan penguatan intervensi melalui pengembangan GARDU CETING,

     jumlah balita stunting pada Triwulan II Tahun 2026 tercatat 65 balita. Perubahan dari 123 balita pada tahun 2025 menjadi 65

     balita pada Triwulan II Tahun 2026 menunjukkan adanya penurunan jumlah kasus sebesar 58 balita atau sekitar 47,2%

     berdasarkan data yang tersedia.

    Kenaikan jumlah balita stunting pada tahun 2025 (dari 75 menjadi 123 balita) terjadi seiring perluasan cakupan skrining dan

     pemutakhiran data sasaran yang sebelumnya belum sepenuhnya terjangkau, sehingga peningkatan angka tersebut

     mencerminkan perbaikan deteksi dan pendataan, bukan memburuknya kondisi gizi masyarakat. Kondisi ini menjadi dasar

     penguatan intervensi melalui pengembangan GARDU CETING pada tahun 2026.

    D. ISU STRATEGIS

    1. Isu Global

  • Stunting merupakan salah satu bentuk masalah gizi kronis yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

     serta kualitas sumber daya manusia. Dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), penanganan stunting berkaitan

     erat dengan: penghapusan segala bentuk malnutrisi; peningkatan kesehatan ibu dan anak; peningkatan akses terhadap

     pelayanan kesehatan; pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat; peningkatan akses air bersih dan sanitasi; pencegahan penyakit

     infeksi; peningkatan kualitas pelayanan kesehatan primer; serta peningkatan kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap

     kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, percepatan penurunan stunting membutuhkan intervensi yang dilakukan sejak masa

     kehamilan, bayi, hingga balita melalui pendekatan keluarga dan masyarakat.

    2. Isu Nasional

  • Pada tingkat nasional, percepatan penurunan stunting diarahkan pada penguatan intervensi yang terintegrasi dan konvergen.

     Permasalahan yang perlu mendapat perhatian antara lain: masih terdapat keluarga yang memiliki risiko stunting; masih

     terdapat ibu hamil dengan masalah gizi; pemantauan tumbuh kembang anak harus dilakukan secara berkelanjutan; perlu

     penguatan intervensi gizi spesifik dan sensitif; perlu peningkatan kualitas pelayanan kesehatan primer; perlu penguatan peran

     kader dan masyarakat; perlu peningkatan kualitas data sasaran; perlu penguatan koordinasi lintas sektor; perlu penguatan

     edukasi dan perubahan perilaku keluarga; serta perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.

    3. Isu Lokal

  • Kabupaten Mimika memiliki tantangan tersendiri dalam percepatan penurunan stunting, terutama berkaitan dengan: kondisi

     geografis wilayah; akses transportasi pada wilayah tertentu; kondisi sosial ekonomi keluarga; pengetahuan dan praktik

     pemberian makanan anak; masalah gizi pada ibu hamil; kehadiran sasaran di Posyandu; penyakit infeksi yang dapat

     memengaruhi status gizi; keterbatasan akses sebagian keluarga terhadap pelayanan kesehatan; kebutuhan pendampingan

     keluarga secara langsung; serta perlunya penguatan peran kader sebagai penghubung antara Puskesmas dan masyarakat.

    Kondisi tersebut menjadi dasar bagi BLUD Puskesmas Kwamki untuk mengembangkan GARDU CETING dari pelayanan yang

     sebelumnya lebih berorientasi pada pelayanan di dalam gedung menjadi pelayanan proaktif berbasis keluarga melalui home

     visit dan pendampingan sasaran.

    E. METODE PEMBAHARUAN

    1. Sebelum Adanya Inovasi

  • Sebelum GARDU CETING diterapkan, penanganan masalah stunting di wilayah kerja Puskesmas Kwamki masih lebih banyak

     dilakukan melalui pelayanan rutin di dalam gedung dan kegiatan Posyandu. Pemberian intervensi gizi belum sepenuhnya

     mampu menjangkau keluarga yang tidak hadir ke Posyandu. Petugas menghadapi berbagai kendala, antara lain: sasaran tidak

     hadir di Posyandu; jarak tempat tinggal; keterbatasan transportasi; rendahnya pengetahuan keluarga; keterbatasan

     pemantauan di rumah; pencatatan dan pemantauan sasaran yang belum optimal; serta intervensi yang belum

     berkesinambungan. Akibatnya, keluarga yang membutuhkan intervensi berisiko tidak memperoleh pendampingan secara

     optimal.

    2. Penerapan GARDU CETING

  • GARDU CETING kemudian dikembangkan sebagai gerakan terpadu yang mengubah pendekatan pelayanan dari pasif menjadi

     proaktif. Petugas kesehatan bersama kader melakukan: identifikasi sasaran; pemetaan balita berisiko; identifikasi ibu hamil

     KEK; pemantauan pertumbuhan balita; kunjungan rumah; pemberian PMT sesuai sasaran; edukasi keluarga; pemantauan

     konsumsi PMT; pemantauan kondisi kesehatan anak; mendorong kehadiran ke Posyandu; melakukan rujukan apabila

     diperlukan; serta melakukan pencatatan dan pelaporan.

    3. Pengembangan GARDU CETING Tahun 2026

  • Pada tahap pengembangan Tahun 2026, GARDU CETING diperkuat dengan konsep:

    "JEMPUT, DAMPINGI, INTERVENSI, PANTAU, DAN EVALUASI."

    * Pengembangan dilakukan melalui:

    a. Jemput sasaran

     Petugas dan kader secara aktif mencari dan mendatangi keluarga sasaran yang tidak dapat mengakses pelayanan secara

     optimal.

    b. Pendampingan keluarga

     Keluarga diberikan edukasi mengenai: gizi seimbang; pemberian makanan anak; pola asuh; kebersihan; sanitasi; pencegahan penyakit; pemantauan pertumbuhan; dan pentingnya Posyandu.

    c. Intervensi gizi

     Sasaran memperoleh intervensi sesuai hasil identifikasi dan kebutuhan, termasuk: PMT lokal bagi balita sasaran; PMT bagi ibu hamil KEK; edukasi gizi; pemantauan konsumsi; dan pemantauan pertumbuhan.

    d. Pemantauan

     Pertumbuhan dan kondisi kesehatan sasaran dipantau secara berkala oleh petugas dan kader.

    e. Evaluasi

     Data sasaran dianalisis secara berkala untuk mengetahui perkembangan kondisi gizi dan menentukan tindak lanjut.

    4. Penguatan Digital

    Walaupun GARDU CETING merupakan inovasi pelayanan nondigital, pada tahap pengembangan dilakukan penguatan melalui

     pemanfaatan teknologi informasi. Data hasil pelayanan dan pemantauan dapat diintegrasikan dengan sistem pelaporan gizi

     seperti SIGIZI KESGA sesuai kewenangan dan mekanisme yang berlaku. 

    * Digitalisasi digunakan untuk: pencatatan sasaran ;

    -  pemantauan perkembangan sasaran; pelaporan intervensi

    - monitoring capaian

    - evaluasi program

    - pemetaan sasaran berisiko dan penguatan akuntabilitas pelayanan. 

        Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan pelayanan tatap muka, melainkan memperkuat ketepatan data, monitoring,

     dan pengambilan keputusan, sehingga GARDU CETING tetap konsisten sebagai inovasi pelayanan publik nondigital yang

     didukung pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat bantu.

    F. KEUNGGULAN/KEBAHARUAN

  • GARDU CETING memiliki keunggulan sebagai inovasi pelayanan publik karena menggabungkan intervensi gizi, pendekatan

     keluarga, home visit, kader, dan pemantauan digital dalam satu gerakan terpadu. Keunggulan GARDU CETING Tahap

     Pengembangan Tahun 2026 meliputi:

  • Pelayanan Jemput Bola.

    Petugas tidak hanya menunggu sasaran datang ke Puskesmas atau Posyandu, tetapi mendatangi keluarga sasaran.

  • Home Visit Terarah.

    Kunjungan rumah dilakukan berdasarkan hasil identifikasi dan pemetaan sasaran.

  • PMT Lokal Berbasis Sasaran

    Pemberian PMT diarahkan kepada sasaran yang membutuhkan intervensi.

  • Durasi Intervensi Terstruktur

    Balita: PMT selama 90 hari. Ibu hamil KEK: PMT selama 120 hari.

  • Melibatkan 57 Kader

    Sebanyak 57 kader menjadi bagian penting dalam mendukung pendampingan keluarga dan pemantauan sasaran.

  • Pendampingan Keluarga

     Tidak hanya memberikan makanan tambahan, tetapi juga memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga.

  • Integrasi Data

     Pemantauan dan pelaporan diperkuat melalui sistem informasi gizi.

  • Kolaborasi Lintas Sektor 

    GARDU CETING melibatkan Puskesmas, kader, pemerintah distrik, pemerintah kampung, dan unsur terkait.

  • Berbasis Data

     Intervensi ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan sasaran.

  • Berkelanjutan

    GARDU CETING tidak berhenti pada pemberian PMT, tetapi dilanjutkan dengan pemantauan pertumbuhan dan tindak lanjut.

    G. CARA KERJA INOVASI

  • Mekanisme pelaksanaan GARDU CETING Tahap Pengembangan dilakukan melalui tahapan: Identifikasi → Pemetaan →

     Penetapan Sasaran → Home Visit → Intervensi → Edukasi → Pemantauan → Evaluasi → Tindak Lanjut.

  • Tahap 1 – Identifikasi. Petugas mengidentifikasi balita stunting, balita berisiko, dan ibu hamil KEK.

  • Tahap 2 – Pemetaan. Sasaran dipetakan berdasarkan lokasi dan tingkat kebutuhan intervensi.

  • Tahap 3 – Penetapan Sasaran. Tim menetapkan sasaran intervensi berdasarkan hasil pemeriksaan dan data pelayanan

  • Tahap 4 – Home Visit. Petugas bersama kader melakukan kunjungan langsung ke rumah sasaran.

  • Tahap 5 – Intervensi. Sasaran mendapatkan intervensi sesuai kebutuhan, termasuk PMT lokal.

  • Tahap 6 – Edukasi. Keluarga diberikan edukasi mengenai gizi, pola asuh, kebersihan, sanitasi, dan kesehatan anak.

  • Tahap 7 – Pemantauan. Pertumbuhan dan kondisi kesehatan anak dipantau secara berkala.

  • Tahap 8 – Evaluasi. Hasil intervensi dianalisis untuk mengetahui perkembangan sasaran.

  • Tahap 9 – Tindak Lanjut. Sasaran yang belum mengalami perbaikan mendapatkan intervensi lanjutan atau rujukan sesuai

     indikasi.

    H. POKOK PERUBAHAN PADA TAHAP PENGEMBANGAN

    ASPEKSEBELUMSETELAH PENGEMBANGAN
    PendekatanPasifProaktif/jemput bola
    Lokasi pelayananPuskesmas/PosyanduPuskesmas, Posyandu, dan rumah sasaran
    PMTTerbatas pada kegiatan tertentuTerstruktur dan berbasis sasaran
    BalitaDi pantau saat datangDi pantau secara berkala
    Ibu hamil KEKPendampingan rutinDiperkuat dengan PMT 120 hari
    KaderPendukung PosyanduPendamping aktif keluarga
    Kunjungan rumahBelum optimalMenjadi bagian utama inovasi
    DataPencatatan pelayananMonitoring dan pelaporan diperkuat secara digital
    KolaborasiProgram internalLintas program dan lintas sektor
  • EvaluasiPeriodikMonitoring berkelanjutan
    Sasaran PMTUmum/terbatasTeridentifikasi dan terukur
    Jumlah kader–57 kader
    Sasaran balita PMT–90 balita
    Durasi PMT balita–90 hari
    Durasi PMT ibu hamil KEKi–120 hari
    Stunting123 balita (2025)65 balita (TW II 2026)

← Kembali ke daftar inovasi

Nilai Website Kami

Bantu Kami Meningkatkan Website Pemkab Mimika

Sampaikan pengalaman Anda menggunakan website resmi Pemerintah Kabupaten Mimika. Masukan Anda membantu kami meningkatkan kualitas informasi dan layanan digital.

Mulai Survei