Inovasi Daerah
SMART BUNDA
Tujuan
- mencegah dan menurunkan stunting
- meningkatkan resiko dini deteksi kesehatan pada ibu hamil dan balita
- meningkatkan akses layanan kesehatan di daerah terpencil
Manfaat
- bagi ibu hamil mendapat pelayanan kesehatan secara rutin dan mengetahui resiko kehamilan yang dapat dideteksi lebih awal
- bagi balita pertumbuhan lebih terpantau, resiko stunting dapat terdeteksi sejak awal
Hasil yang dicapai
hasil inovasi smart bunda menggambarkan perubahan yang terjadi setelah sistem deteksi dini, pendampingan dan penjemputan pasien diterapkan secara terintegrasi.
Rancang bangun
1.DASAR HUKUM :
a.Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
b.Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Hamil, Persalinan, dan Nifas
c.Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi
2.PERMASALAHAN
a.Makro :
SMART BUNDA (Sistem Monitoring dan Pendampingan Terpadu Ibu Hamil dan Balita) adalah sebuah inovasi program kesehatan berbasis pendampingan langsung dan pemanfaatan sistem monitoring untuk mencegah stunting sejak masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun.
Program ini berfokus pada intervensi di periode penting yaitu 1000 Hari Pertama Kehidupan, yang merupakan masa krusial dalam menentukan tumbuh kembang anak.
Permasalahan makro adalah gambaran besar kondisi yang menjadi latar belakang munculnya inovasi SMART BUNDA, khususnya terkait stunting di Indonesia.
1)Tingginya Prevalensi Stunting Nasional
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang ada belum sepenuhnya efektif dan merata.
Masalah ini menjadi prioritas nasional dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting
Menunjukkan perlunya pendekatan baru yang lebih terintegrasi dan inovatif
2)Ketimpangan Akses Layanan Kesehatan
Wilayah terpencil dan kepulauan (seperti Papua) masih menghadapi :
Keterbatasan fasilitas kesehatan
Kurangnya tenaga kesehatan
Jangkauan layanan yang tidak merata
Akibatnya, pemantauan ibu hamil dan balita tidak optimal
3)Faktor Sosial Ekonomi dan Lingkungan
Kemiskinan
Akses pangan bergizi terbatas
Sanitasi dan air bersih belum memadai
Faktor ini memperparah risiko stunting.
b.Mikro :
Permasalahan mikro pada Puskesmas yang berhubungan dengan SMART BUNDA ( umumnya menggambarkan kondisi spesifik di tingkat keluarga, dan layanan dasar yang berkontribusi terhadap risiko stunting.
1)Rendahnya Kepatuhan Ibu Hamil terhadap Konsumsi Gizi
Di tingkat individu sering ditemukan:
Ibu hamil tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah
Pola makan tidak memenuhi kebutuhan gizi
Kurangnya variasi makanan bergizi
Hal ini berdampak langsung pada pertumbuhan janin.
2)Kehadiran ke Posyandu Tidak Rutin
Permasalahan yang sering terjadi:
Ibu tidak datang setiap bulan ke posyandu
Tidak melakukan penimbangan rutin
Tidak memantau tumbuh kembang anak secara berkala
Akibatnya, risiko stunting tidak terdeteksi sejak dini.
3)Pola Asuh dan Kebiasaan Keluarga
Pemberian makanan tidak bergizi
Kebiasaan hidup kurang sehat
Kurangnya dukungan dari keluarga (suami/anggota lain)
Padahal keberhasilan program sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga
4)Keterbatasan Akses Pangan Bergizi
Di beberapa wilayah :
Harga bahan makanan bergizi relatif mahal
Ketergantungan pada makanan instan
Belum optimalnya pemanfaatan pangan lokal
5)Sanitasi dan Perilaku Hidup Bersih
Akses air bersih terbatas
Kebiasaan cuci tangan masih rendah
Lingkungan kurang sehat
Hal ini meningkatkan risiko infeksi yang memperburuk status gizi anak.
3.ISU STRATEGIS
a.Global : Di banyak negara, termasuk di Indonesia masih terjadi ibu hamil dengan kekurangan gizi, akses layanan kesehatan ibu dan anak yang tidak merata dan rendahnya cakupan intervensi pada 1000 HPK . Padahal periode 1000 Hari Pertama Kehidupan merupakan masa paling kritis dalam pencegahan stunting.
b.Nasional : Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia karena berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia, produktivitas tenaga kerja masa depan dan daya saing bangsa. Indonesia masih berupaya mencapai target penurunan stunting melalui kebijakan nasional dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting
c.Lokal : Stunting Masih Menjadi Masalah Kesehatan Daerah. Di Kabupaten Mimika masih menghadapi kasus stunting yang cukup signifikan. Data menunjukkan prevalensi stunting berada di kisaran ±9–11% jumlah kasus masih lebih dari 1.000 balita meskipun menurun, tetap menjadi masalah serius daerah. Wilayah Mimika memiliki karakter geografis yang luas dan beragam, sehingga akses ke fasilitas kesehatan tidak merata. beberapa distrik sulit dijangkau, layanan posyandu belum optimal di semua wilayah. Hal ini membuat pemantauan ibu hamil dan balita tidak konsisten.kemudian Faktor Sosial dan Lingkungan Di Mimika, faktor yang menjadi pendukung stunting juga dipengaruhi oleh keterbatasan air bersih di beberapa wilayah, sanitasi belum optimal dan kondisi ekonomi keluarga yang beragam
4.METODE PEMBAHARUAN
a)Sebelum penerapan inovasi : Sebelum SMART BUNDA Ibu hamil dan balita di pulau sulit menjangkau Puskesmas induk, Pemeriksaan hanya dilakukan saat tenaga kesehatan datang sesekali kunjungan rumah atau saat Posyandu membuat Risiko kehamilan dan gizi buruk tidak tertangani cepat dan Rujukan lambat karena keterbatasan transportasi pribadi ke puskesmas induk. Akibatnya, banyak kasus stunting dan komplikasi terlambat ditangani.
b)Sesudah penerapan inovasi : SMART BUNDA mengubah pola pelayanan dari:
“menunggu pasien datang” → menjadi “menjemput pasien berisiko”
Dampak Perubahan yang Diharapkan setelah penerapan inovasi yaitu Penanganan ibu hamil risiko tinggi lebih cepat, Penurunan keterlambatan rujukan, Berkurangnya kasus stunting akibat keterlambatan layanan dan Akses kesehatan lebih merata hingga pustu.
5.KEUNGGULAN/KEBAHARUAN : SMART BUNDA tidak menunggu pasien datang, tetapi melakukan skrining langsung di lapangan, menjemput ibu hamil dan balita berisiko dari pulau ke Puskesmas induk dan mempercepat penanganan kasus risiko tinggi
6.CARA KERJA INOVASI : ALUR SINGKAT SMART BUNDA
Pendataan → Skrining → Pelaporan → Intervensi → Penjemputan (jika perlu) → Pelayanan Puskesmas → Pendampingan → Monitoring → Evaluasi