Perdamaian Adat Akhiri Konflik Keluarga di Kwamki Narama, Johannes Rettob: Tidak Ada Perang Lagi

Perdamaian Adat Akhiri Konflik Keluarga di Kwamki Narama, Johannes Rettob: Tidak Ada Perang Lagi

MIMIKA – Konflik yang terjadi di wilayah Kwamki Narama resmi diakhiri melalui upacara perdamaian adat yang digelar dengan penuh khidmat. Prosesi perdamaian ditandai dengan ritual adat berupa panah babi dan pematahan panah di tengah kedua belah pihak sebagai simbol berakhirnya permusuhan serta komitmen bersama untuk menjaga kedamaian.

‎Upacara adat tersebut dihadiri oleh Bupati Mimika Johannes Rettob, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Agustinus Anggaibak, anggota DPRP Papua Tengah, DPRK Mimika, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman, Dandim 1710/Mimika, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para tokoh adat dan tokoh masyarakat.

‎Dalam sambutannya, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukan merupakan perang antarsuku, melainkan konflik keluarga atau perang saudara. Karena itu, penyelesaian secara damai melalui pendekatan adat menjadi langkah terbaik demi menjaga persaudaraan dan masa depan masyarakat Kwamki Narama.

‎“Hari ini kita berkumpul untuk menyatakan perdamaian bersama atas perang saudara ini. Sekarang kita tutup. Saya sudah bertemu dengan kedua belah pihak dan mereka sepakat berdamai dan tidak ada perang lagi,” ujar Johannes Rettob.

‎Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian, mulai dari para tokoh adat, aparat keamanan, hingga lembaga perwakilan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan proses perdamaian ini merupakan hasil kerja sama dan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat.

‎“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, termasuk MRP, DPRP maupun DPRK. Setelah perdamaian ini, apabila ada hal-hal yang perlu disampaikan, silakan disampaikan kepada pemerintah daerah maupun aparat keamanan,” katanya.

‎Lebih lanjut, Johannes Rettob berharap perdamaian yang telah disepakati dapat menjadi titik balik bagi Kwamki Narama untuk bangkit, berkembang, dan terbebas dari konflik di masa mendatang. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan dan persatuan demi terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, dan sejahtera.

‎“Saya berharap apa yang kita lakukan hari ini tidak lagi dilakukan. Kwamki Narama kita buat menjadi baik, aman, dan damai. Semoga perdamaian ini menjadi momen baru bagi Kwamki Narama,” tutupnya.

‎Tim Liputan Diskominfo Mimika


Tags :